Nurul's Profil

Foto saya
Seorang ibu, guru, dan pembelajar.

Selasa, 28 Desember 2010

Aubade di Waktu Senja

Aubade di waktu senja
Masa yang terlewat tapi kan datang lagi
Tak ingkar janji ia
sebab ia patuh penuh seluruh kepada titah Tuhannya

Kamis, 23 Desember 2010

Kita Bukan Pematung

waaah, akku juga manusia biasa, bukannya malaikat yang ga khilaf apalagi salahnya. Kl mau menuntut kesempurnaan jangan ke aku ya, ada yang Maha Sempurna.
Anda pun bukan pematung dan saya bukan objeknya yang bisa anda bentuk sesuka hati, mau jadipatung orang, ayam, bebek, atau gajah. Anda ga bisa mengatakan: "kamu harus seperti ini, atau seperti itu, kamu kan udah ikut ini, ikut itu, atau kamu kan udah disekolahin tinggi2."
Baik di mta kita, belum tentu di mata orang lain atau m\bahkan di mata Pemilik Nyawa kita baik. Mungki hrus belajar untuk tidak memandang suatu hal hanya dari satu sisi sja. begitu banyak sisi2 lain yang harus kita lihat.
Satu hal, mari kita berintropeksi.
Tetap berpikir positif menghadapi semua yang akan kta hdpi.
Semangat!

Senin, 20 Desember 2010

saat Berjalan Bersama

"Semakin lama kita berjalan bersama, semakin kita saling mengenal, dan semakin kita tahu kekurangan n kelebihan masing2. Tapi, apakah kita semakin saling mengerti?

Sebuah status yanng pernah aku buat di dinding facebook-ku. Benarkah kita semakin saling mengerti? mungkin kita perlu perenungan untuk itu. Semakin jauh kita melangkah semakin kita mengetahui kekurangan dan kelebihan sahabat kita. Satu hal yang mungkin tidak kita sadari. Kita malah bukan saling melengkapi dengan tahunya kelebihan dan kekurangan itu. tapi, terkadang kita malah menertawainya. Sebegitu picikkah kita? Padahal kita pun punya kekurangan.
Salahkah saudara kita yang punya kekurangan? Bukankah itu fitrah manusia?
Mungkin kita sama2 perlu merenung untuk itu. jangan sampai dalam perjalanan ini genggaman tangan kita terlepas dan kita saling menjauh. Jangan sampai barisan yang telah rapat ini menjadi renggang dan kasih itu perlahan pudar.
"sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati ni telah berpadu, berhimpun dalam naungan cinta-Mu. Berpadu dalam dalam ketaatan, bersatu dalam perjuangan menegakkan syariat dalam kehidupan." (Doa Rabithah)

Minggu, 19 Desember 2010

Catatan Akhir Tahun

1991
Suci kala itu tanpa noda. Akulah kertas putih itu. Akulah kebahagiaan itu. Sebentar saja, sayang.

Hari berganti, bulan terlewati, dan tahun berganti. Tak ada lagi kertas putih itu, telah penuh coretan. Akulah noda itu

2010
Pada penghujung ini. Aku bertanya pada diriku sendiri dan tanyakan pula
pada dirimu, kawan. Apa yang telah kita berikan dan apa yang telah kita sumbangkan sepanjang hidup ini?
Sudahkah kita bermanfaat untuk orang lain??
Begitu banyak kekhilafan yang berulang kali kita lakukan tanpa mengambil hikmah darinya. Begitu banyak kesalahan yang sengaja kita lakukan tanpa memikirkan bahwa hidup ini akan berakhir juga dan dunia ini akan hancur jika telah tiba masanya.
"dan nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Kamis, 16 Desember 2010

Pagi

Pagi,
aku kembali ketika langit menangis
mentari tak menampakan diri dari ufuk timur
namun, biasnya menerangi setiap celah bumiku
pagi,
apa kabarmu?
aku telah kembali
aku tak akan pergi lagi
aku akan tetap disini bersama semangatmu, pagi!
pagi,
Aku tak ingin mengkhianati titah-Nya
seperti kau yang tak pernah mengkhianati titah-Nya
untuk mengakhiri pekat malam
pagi,
aku tak kan pergi
aku telah menyatu dengan semangatmu, pagi!

Minggu, 05 Desember 2010

Jalan Telah Terbentang

Telah sampai masanya
Lama berganti baru
Tapi, tetap dalam satu genggaman tangan dan satu cinta
Jalan telah terbentang
Kita akan menapakinya
Ini masa kita!
Oh, ada duri, ada kerikil, dan ada jurang – jurang yang siap menjadi perangkap
Hari ini ada duri
Aku terpijak, kau terpijak, dan diapun terpijak
Kita terpijak duri
Sakit!
Hati – hati sayang!
Aku khilaf, mungkin kau dan dia juga
Mari kita saling menggenggam tangan lagi
Kita berjalan bersama lagi
Jika aku hampir terpijak duri ataupun kerikil
Cepet ingatkan aku!
Mari kita eratkan genggaman ini
Jalan telah terbentang
Ini yang akan kita tapaki!

Indralaya, 6 Desember 2010
Untuk Ika, Ira, Amha, dan Fiqi

Syahidmu

Tanah yang memerah
Batu yang menjelma peluru
Luka yang mengikis canda
Derita yang menelan tawa
Perang yang menyita damai
Saksi bisu!
Bayi lahir kemudian syahid
Anak – anak menggenggam batu,
Melempar pada kaum yang hatinya telah mati
Batu jadi peluru, mesiu
Yang menghancurkan keangkuhan!
Syahid!
Tanahmu memerah
Darah mengalir,
Tanahmu menangis
Tapi, bahagia menjadi saksi syahidmu
Angin yang berhembus, kering!
Menngantarkan syahidmu pada kehariban-Nya
Aroma gurun.
Mewangi! Inilah syahidmu
Alam bersaksi atasnya!

Indralaya, 6 Desember 2010
Untuk Al-Aqsa dan mujahid-mujahidah Al-Aqsa

Rabu, 24 November 2010

Perjuangan

perjuangan memang tak selamanya berakhir dengan hasil seperti yang kita harapkan. Adakalanya apa yang terjadi di akhir malah bertolak belakang dari yang telah direncanakan. mungkin kita telah berusaha dengan segenap tenaga, segenap kemampuan yang kita miliki. Tapi percayalah apapun yang terjadi di akhir adalah rencana Allah. Rencana yang lebih indah dari yang kita inginkan.
perjuangan ini memang tak mudah. Jalannya tidak lurus mulus sperti jalan tol. Malah jalan tol yang katanya bebas macet masih saja macet. Apalagi jalan juang ini. Tapi, percayalah siapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya. Begitu pun ketika kita mengalami kesulitan dalam meniti jalan ini. Meski sulit menapaki jalan ini, yakinlah kita bisa. Kita punya potensi yang telah Allah anugerahi untuk menapaki jalan yang paling sulit sekalipun. Allah pun begitu adil, Dia tak pernah memberikan masalah dan kesulitan di luar kemampuan hamba-Nya. Meski sulit, Allah tahu kita bisa melewati setiap kesulitan yang Dia berikan. Disanalah kita diuji. Disanalah Allah melihat sebesar apa keyakinan kita kepada-Nya. Keyakinan kita bahwa Allah akan menolong hamba-Nya.
Indralaya, 25 November 2010

Minggu, 14 November 2010

Undang-Undang Kebahasaan (UU 24/2009)

Undang-Undang Kebahasaan (UU 24/2009)
1. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2009 TENTANG BENDERA, BAHASA, DAN LAMBANG NEGARA, SERTA LAGU KEBANGSAAN
2.KOMPOSISI BAB I KETENTUAN UMUM 3 Pasal BAB II BENDERA NEGARA 20 Pasal BAB III BAHASA NEGARA 21 Pasal BAB IV LAMBANG NEGARA 22 Pasal BAB V LAGU KEBANGSAAN 6 Pasal BAB VI HAK DAN KEWAJIBAN WN 1 Pasal BAB VII KETENTUAN PIDANA 6 Pasal BAB VIII KETENTUAN PERALIHAN 1 Pasal BAB IX KETENTUAN PENUTUP 2 Pasal
3.UU 24 2009 BBLNLK
4. BAB I KETENTUAN UMUM PASAL 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: … 2. Bahasa Negara Kesatuan Republik Indonesia yang selanjutnya disebut Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi nasional yang digunakan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. … 6. Bahasa daerah adalah bahasa yang digunakan secara turun-temurun oleh warga negara Indonesia di daerah-daerah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. 7. Bahasa asing adalah bahasa selain Bahasa Indonesia dan bahasa daerah. ….
5. PASAL 2 Pengaturan bendera, bahasa, dan lambang negara, serta lagu kebangsaan sebagai simbol identitas wujud eksistensi bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia dilaksanakan berdasarkan asas: a. persatuan; b. kedaulatan; c. kehormatan; d. kebangsaan; e. kebhinnekatunggalikaan; f. ketertiban; g. kepastian hukum; h. keseimbangan; i. keserasian; dan j. keselarasan.
6. PASAL 3 Pengaturan bendera, bahasa, dan lambang negara, serta lagu kebangsaan bertujuan untuk: a. memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dan Negara Kesatu-an Republik Indonesia; b. menjaga kehormatan yang menunjukkan kedaulatan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia; dan c. menciptakan ketertiban, kepastian, dan standardisasi penggunaan bendera, bahasa, dan lambang negara, serta lagu kebangsaan.
7.BAB III BAHASA NEGARA BAGIAN KESATU UMUM
8. PASAL 25 (1) Bahasa Indonesia yang dinyatakan sebagai bahasa resmi negara dalam Pasal 36 Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945 bersumber dari bahasa yang diikrarkan dalam Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 sebagai bahasa persatuan yang dikembangkan sesuai dengan dinamika peradaban bangsa. (2) Bahasa Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi sebagai jati diri bangsa, kebanggaan nasional, sarana pemersatu berbagai suku bangsa, serta sarana komunikasi antardaerah dan antarbudaya daerah. (3) Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi sebagai bahasa resmi kenegaraan, pengantar pendidikan, komunikasi tingkat nasional, pengembangan kebudayaan nasional, transaksi dan dokumentasi niaga, serta sarana pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan bahasa media massa.
9. BAGIAN KEDUA PENGGUNAAN BAHASA
10. PASAL 26 Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam peraturan perundang-undangan.
11. PASAL 27 Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam dokumen resmi negara. Penjelasan: Yang dimaksud “dokumen resmi negara” adalah antara lain surat keputusan, surat berharga, ijazah, surat keterangan, surat identitas diri, akta jual beli, surat perjanjian, putusan pengadilan.
12. PASAL 28 Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam pidato resmi Presiden, Wakil Presiden, dan pejabat negara yang lain yang disampaikan di dalam atau di luar negeri. Penjelasan: Yang dimaksud dengan “pidato resmi” adalah pidato yang disampaikan dalam forum resmi oleh pejabat negara atau pemerintahan, kecuali forum resmi internasional di luar negeri yang menetapkan penggunaan bahasa tertentu.
13. PASAL 29 (1) Bahasa Indonesia wajib digunakan sebagai bahasa pengantar dalam pendidikan nasional. (2) Bahasa pengantar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat menggunakan bahasa asing untuk tujuan yang mendukung kemampuan berbahasa asing peserta didik. (3) Penggunaan Bahasa Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku untuk satuan pendidikan asing atau satuan pendidikan khusus yang mendidik warga negara asing.
14. PASAL 30 Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam pelayanan administrasi publik di instansi pemerintahan.
15. PASAL 31 (1) Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam nota kesepahaman atau perjanjian yang melibatkan lembaga negara, instansi pemerintah Republik Indonesia, lembaga swasta Indonesia atau perseorangan warga negara Indonesia. Penjelasan: Yang dimaksud dengan “perjanjian” adalah termasuk perjanjian internasional, yaitu setiap perjanjian di bidang hukum publik yang diatur oleh hukum internasional, dan dibuat oleh pemerintah dan negara, organisasi internasional, atau subjek hukum internasional lain. Perjanjian internasional ditulis dalam bahasa Indonesia, bahasa negara lain, dan/atau bahasa Inggris. Khusus dalam perjanjian dengan organisasi internasional yang digunakan adalah bahasa-bahasa organisasi internasional.
16. PASAL 31 ... (2) Nota kesepahaman atau perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang melibatkan pihak asing ditulis juga dalam bahasa nasional pihak asing tersebut dan/atau bahasa Inggris. Penjelasan: Dalam perjanjian bilateral, naskah perjanjian ditulis dalam bahasa Indonesia, bahasa nasional negara lain tersebut, dan/atau bahasa Inggris, dan semua naskah itu sama aslinya.
17. PASAL 32 (1) Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam forum yang bersifat nasional atau forum yang bersifat internasional di Indonesia. (2) Bahasa Indonesia dapat digunakan dalam forum yang bersifat internasional di luar negeri. Penjelasan: Ayat (1) Yang dimaksud “bersifat nasional” adalah berskala antardaerah dan berdampak nasional. Ayat (2) Yang dimaksud “bersifat internasional” adalah berskala antar-bangsa dan berdampak internasional.
18. PASAL 33 (1) Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam komunikasi resmi di lingkungan kerja pemerintah dan swasta. (2) Pegawai di lingkungan kerja lembaga pemerintah dan swasta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang belum mampu berbahasa Indonesia wajib mengikuti atau diikutsertakan dalam pembelajaran untuk meraih kemampuan berbahasa Indonesia. Penjelasan: Yang dimaksud dengan “lingkungan kerja swasta” adalah mencakup perusahaan yang berbadan hukum Indonesia dan perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia.
19. PASAL 34 Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam laporan setiap lembaga atau perseorangan kepada instansi pemerintahan.
20. PASAL 35 (1) Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam penulisan karya ilmiah dan publikasi karya ilmiah di Indonesia. (2) Penulisan dan publikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk tujuan atau bidang kajian khusus dapat menggunakan bahasa daerah atau bahasa asing.
21. PASAL 36 (1) Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam nama geografi di Indonesia. (2) Nama geografi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya memiliki 1 (satu) nama resmi. (3) Bahasa Indonesia wajib digunakan untuk nama bangunan atau gedung, jalan, apartemen atau permukiman, perkantoran, kompleks perdagangan, merek dagang, lembaga usaha, lembaga pendidikan, organisasi yang didirikan atau dimiliki oleh warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia. (4) Penamaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) dapat menggunakan bahasa daerah atau bahasa asing apabila memiliki nilai sejarah, budaya, adat istiadat, dan/atau keagamaan.
22. PASAL 37 (1)Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam informasi tentang produk barang atau jasa produksi dalam negeri atau luar negeri yang beredar di Indonesia. (2) Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilengkapi dengan bahasa daerah atau bahasa asing sesuai dengan keperluan.
23. PASAL 38 (1) Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam rambu umum, penunjuk jalan, fasilitas umum, spanduk, dan alat informasi lain yang merupakan pelayanan umum. (2) Penggunaan Bahasa Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat disertai bahasa daerah dan/atau bahasa asing.
24. PASAL 39 (1) Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam informasi melalui media massa. (2) Media massa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat menggunakan bahasa daerah atau bahasa asing yang mempunyai tujuan khusus atau sasaran khusus.
25. PASAL 40 Ketentuan lebih lanjut mengenai penggunaan Bahasa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 sampai dengan Pasal 39 diatur dalam Peraturan Presiden.
26. BAGIAN KETIGA PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA INDONESIA
27. PASAL 41 (1) Pemerintah wajib mengembangkan, membina, dan melindungi bahasa dan sastra Indonesia agar tetap memenuhi kedudukan dan fungsinya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, sesuai dengan perkembangan zaman. (2) Pengembangan, pembinaan, dan pelindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan oleh lembaga kebahasaan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengembangan, pembinaan, dan pelindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah. Penjelasan: Ayat (2) Yang dimaksud dengan “pengembangan bahasa” adalah upaya memodernkan bahasa melalui pemerkayaan kosakata, pemantapan dan pembakuan sistem bahasa, pengembangan laras bahasa, serta mengupayakan peningkatan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional. Yang dimaksud dengan “pembinaan bahasa” adalah upaya meningkatkan mutu penggunaan bahasa melalui pembelajaran bahasa di semua jenis dan jenjang pendidikan serta pemasyarakatan bahasa ke berbagai lapisan masyarakat. Selain itu, pembinaan bahasa juga dimaksudkan untuk meningkatkan kedisiplinan, keteladanan, dan sikap positif masyarakat terhadap bahasa Indonesia. Yang dimaksud dengan “pelindungan bahasa” adalah upaya menjaga dan memelihara kelestarian bahasa melalui penelitian, pengembangan, pembinaan, dan pengajarannya.
28. PASAL 42 (1) Pemerintah daerah wajib mengembangkan, membina, dan melindungi bahasa dan sastra daerah agar tetap memenuhi kedudukan dan fungsinya dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan perkembangan zaman dan agar tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia. (2) Pengembangan, pembinaan, dan pelindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan oleh pemerintah daerah di bawah koordinasi lembaga kebahasaan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengembangan, pembinaan, dan pelindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
29. PASAL 43 (1) Pemerintah dapat memfasilitasi warga negara Indonesia yang ingin memiliki kompetensi berbahasa asing dalam rangka peningkatan daya saing bangsa. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai fasilitasi untuk meningkatkan kompetensi berbahasa asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
30. BAGIAN KEEMPAT PENINGKATAN FUNGSI BAHASA INDONESIA MENJADI BAHASA INTERNASIONAL
31. PASAL 44 (1) Pemerintah meningkatkan fungsi Bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan. (2) Peningkatan fungsi Bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikoordinasi oleh lembaga kebahasaan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai peningkatan fungsi Bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah. Penjelasan: Yang dimaksud “bahasa internasional” adalah bahasa yang digunakan sebagai sarana komunikasi antarbangsa.
32. BAGIAN KELIMA LEMBAGA KEBAHASAAN
33. PASAL 45 Lembaga kebahasaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 ayat (2), Pasal 42 ayat (2), dan Pasal 44 ayat (2) dibentuk sesuai ketentuan peraturan perun-dang-undangan dan bertanggung jawab kepada Menteri.
34. BAB VIII KETENTUAN PERALIHAN
35. PASAL 72 Pada saat Undang-Undang ini berlaku, semua peraturan perundang-undangan yang mengatur bendera, bahasa, dan lambang negara, serta lagu kebangsaan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan/atau belum diganti dengan peraturan baru berdasarkan Undang-Undang ini.
36. BAB IX KETENTUAN PENUTUP
37. PASAL 73 Peraturan pelaksana yang diperlukan untuk melaksanakan Undang-Undang ini diselesaikan paling lama 2 (dua) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan.

sumber: http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/lamanv42/?q=node/1322

Senin, 01 November 2010

Drama Dua Latar

Kantin, jam makan siang
Seribu rupiah
Kubagikan seribu kasih
Pada sebuah kotak yang bertuliskan:
“PEDULI………..”
Hanya seribu rupiah
Ya, meski sedikit berat tanganku mengulur pada kotak itu
Tapi, sudahlah!
Toh, hanya seribu rupiah
Di rumah aku punya seratus ribu dalam lipatan diaryku
Tak usah di rumah, di dompet
Aku punya dua ratus ribu dan tersimpan di ATM satu juta rupiah
Makanku tak selesai
Satu lagi kotak bertuliskan:
:PEDULI…….”
Tak ada lagi duit seribu di dompetku
Masih ada lima ribu, sepuluh ribu, duapuluh ribu, dan seratus ribu
Ah, sudahlah!
Tadi telah kubagikan seribu cinta pada kotak pertama
Dan aku tak peduli kotak itu berlalu
Aku terus makan

Mentawai, kala matahari di atas ubun-ubun
Bumiku luluh lantak
Rumah-rumah hancur
Kampungku rata dengan tanah
Dan mayatpun bergelimpangan
Bumiku kemarin marah dan kami adalah korban!
Siang ini terik
Matahari di atas ubun-ubun
Tapi, aku terus melangkah diantara puing-puing ini
Ah, berserakan
Aku tersandung.
Tersandung tangan mayat seorang pemuda
Aku terjatuh,
Tepat di depanku mayat seorang bayi telah kaku
aku menangis!
Aku lapar!
Aku hanya butuh satu kasih saja, kawan!

Indralaya, 1 November 2010

Sabtu, 30 Oktober 2010

::::Q:::

Pada pagi ini, aku masih mengingat kala malam membekas bersama dukamu dan aku terdiam, hilang kata. Bisu. Kuingin katakan bahwa aku lebih pedih. Tapi, aku tak boleh sedih. Ada yang lebih berduka yang harus kubagikan senyum untuknya. Ada luka yang kurasa lebih pedih yang harus kubalut dengan canda dan tawa. Aku tetap tersenyum dalam pedih ini. Aku tetap tetawa dalam luka ini, untuk mereka yang harus kubuat tersenyum.

Kubiarkan waktu berlalu tanpa harus kusia-siakan. Aku tahu, waktulah yang nanti juga kan menjawab. Aku percaya, Hidup ini akan berakhir bahagia, happy ending, begitu istilah kerennya. Lebih bahagia lagi jika pada akhirnya dipenuhi barokah dari-Nya. aku percaya sebab Dia telah berjanji pada mereka yang berserah diri kepada-Nya bahwa pada akhirnya hidup ini akan bahagia.

Allah, Allah, Allah..... Aku memanggil-Mu, merintih......... Aku Memohon dan aku percaya pada ketentuan-Mu. Semuanya akan indah pada masanya dan Engkau akan memberikan apa yang aku butuhkan bukan apa yang aku inginkan.

Rabu, 27 Oktober 2010

Mencari Bahagia (Ira dan Aku)

Ira
Hati itu kecil jika diisi dengan lirih
Hati itu sakit jika disayat belati kasih
Hati itu remuk jika dirumbung sendu
Kapan ia bahagia?

Aku
Hati bahagia bukan saat kaya raya
Sebab kaya hanya fisik semata
Bukan pula saat kasih terbalaskan
Sebab itu hanya emosi semata
Tapi, hati bahagia saat hati telah mampu bersabar dan bersyukur
Atas segala nikmat Tuhan
Percuma harta melimpah
Tapi tak mampu bersyukur
Percuma kasih berlimpah
Tapi hanya kasih semu
Bahagialah dengan sabar dan syukur
Kebahagiaan hakiki pun pasti menanti

Ira
Jika syukur pengobat itu
Dimana kudapat ia jika hati tertutup beku
Dimana kuraih ia jika asa tertelan resah
Dimana?
Jangan berfilosofi dengan hati



Aku
Di setiap sujudmu!
Sujud panjang tahajudmu
Jika belum juga kau temui
Mungkin hati kita masih terbelenggu prasangka
Indralaya, 26 Oktober 2010

Hilang

Menari di bawah gerimis
Tertawa kemudian menangis
Satu kaki terperosok ke got berlumpur
Kubangan comberan
Gerimis hati ini
Hujan dan banjir
Hitam, keruh, dan kotor sudah
Hilang sudah kejernihan itu
Hingga embun pun menjadi keruh

Indralaya, 251010

Tanpa Judul

Aku menulis puisi tanpa judul
Sebab aku telah kehabisan kata untuk mencari judul
Seperti kepala yang kehabisan rambut dan gundul
Kata-kata yang kukumpul
Tak satupun cocok jadi judul
Semuanya jadul
Hingga pena pun kupukul
Pada meja hingga tumpul

Indralaya, 251010

Senin, 18 Oktober 2010

Sedikit Renungan Tentang Maut

Maut itu sudah ditetapkan dann ga bilang2 kl mau datang, seminggu terakhir 2 kabar serupa aku terima. Pertama nenek dari pihak ayah meninggal dunia, kmudian kemarin pagi aku dapat kabar lagi teman SD ku dulu juga telah berpulang ke rahmatullah.
Begitulah maut datang, tak pernah kita ketahui kapan ia datang. Sekarang giliran mereka, mungkin sebentar lagi giliran kita. Ntah kapan itu, tapi kita semakin dekat saja dengannya. Kita hanya bisa melakukan yang terbaik setiap saat untuk menyongsongnya agar pada saat ia datang kita telah siap menghadapinya. Akhir yang baik, itu harapan kita. Semoga harapan itu tak sekedar harapan karena ia pasti datang dan tak ingkar janji meski kita tak tahu kapan dan dimana.

Minggu, 17 Oktober 2010

Malam Membekas Bersama Dukamu

Malam berlari bersama dukamu
Dan tak ingkar janji menyongsong pagi
Entah apa bentuk dukamu
Hingga kau mohon pengampunan atasnya
Entah seberapa dalam pedihmu
Hingga kau merintih dalam keramaian yang semu

Aku hanya terdiam
Ingin kurasakan dukamu
Tapi, mungkin hatiku telah beku untuk merasakannya
Begitupun jiwaku
Semuanya membeku untukmu

Entah apa yang salah?
Mungkin hatiku yang telah terjebak dalam lorong gelap
Yang di dalamnya aku mengejarmu
Tapi, jangankan rupamu, bayangmu pun tak kulihat
Kurasa semuanya terlalu gelap
Hingga berjalan pun aku tak mampu di lorong ini
Dan malam ini membekas bersama dukamu.

Indralaya, 17 Oktober 2010

Rabu, 13 Oktober 2010

Alam Berpuisi

Pagi berpuisi
Herangkai kata syukur lewat kilau embun pagi
Suci dan jernih

Mentari berpuisi
Memancarkan lembut cahaya cinta-Nya di awal hari
Awan berpuisi
Menyairkan irama angin di atas awang-awang
berlarian ia ke barat

Daun-daun berpuisi
Menarikan melodi angin pada pucuk-pucuknya
Ah, indahnya puisi milik semesta
Tak ada kufur, tak ada ingkar
Semua tunduk, patuh penuh syukur


Indralaya, 14 Oktober 2010

Selasa, 12 Oktober 2010

Sepotong Doa untuk Ia yang Telah Tiada

"Kutitip Sepotong doa untuknya yang hari ini telah kembali kepangkuan Illahi, menyatu dengan tanah. kembali ke asalnya. Semoga Allah menjadikan tempat kembalinya menjadi tempat seindah-indahnya tempat untuk istirahatnya. Semoga Allah menjadikan setiap amalannya menjadi cahaya yang menerangi tempat kembalinya. Terakhir ku memohon semoga Allah memberatkan timbangan kebaikan untuknya di akhir nanti. Sungguh bukan aku tak mencintai dan menyanyanginya, ingin sekali aku berada disana, menatap wajahnya untuk yang terakhir kalinya.
kutitip sepotong doa untuk mereka yang berduka disana, semoga Allah memberikan kesabaran seperti sabarnya Ali bin Abi Thalib saat Fatimah menghadap Khaliknya. Semoga Allah menganugerahi hati yang ikhlas untuk melepas kepergiannya.
Kutitipkan sepotong doa untuk hati yang sedang belajar sabar agar ia senantiasa berada dalam jalan-Nya meski ujian demi ujian datang silih berganti."


Indralaya, 13 Oktober 2010

Kamis, 23 September 2010

Yang Berlalu

Ketika ia berlalu
Aku bertanya kepada diriku sendiri:
“Apa yang telah kulewati?”
Tapi aku kehilangan kata dan kehilangan secarik memori semalam
Yang kutahu, waktu telah berlalu.
Sepotong kenangan itu pun telah hilang.

Minggu, 13 Juni 2010

Bukan Puisi Air Mata

Aku ingin menulis puisi air mata
Tapi, ia kering sebelum aku menemukan sebatang pena dan selembar kertas
Serangkai kata tersendat di leher
Mencekikku hingga tersengal-sengal nafas ini
Duri pun telah menusuk hati
Tapi tetap kering air mata
Tetap tersendat kata di leherku
Tetap tersengal-sengal nafasku
Dan akhirnya, puisi ini menjadi bukan puisi air mata
Palembang, 12 June 2010

Petang yang Terbuang

Mentari ini telah menuju ke barat
Hari akan segera berakhir
Tapi, angin tak bertiup untuk menyapu awan yang putih di bawah langit
Biar biru itu mewarnai langit dari barat ke timur dan dari utara ke selatan

Deru itu bukan suara petang
Hanya bisik tanpa rupa berdesis
Milik petang hanya hening
Tapi hening pun terusik
Sebab gemuruh yang datang tiba-tiba dari dua penjuru mata angin
Utara dan selatan

Petang terbuang
Ia berakhir tanpa rupa

Indralaya, 10 Juni 2010

Sabtu, 05 Juni 2010

Aku Sebatang Asoka

Aku Sebatang Asoka
(sebuah tugas menulis kreatif)

Aku adalah sebatang asoka. Aku tumbuh di depan sebuah gedung perkuliahan salah satu universitas negeri di Indonesia. Entah berapa tahun aku disini. Mungkin lebih dari tujuh tahun. Tapi, aku tetap semangat. Setiap musim berbunga aku selalu mengeluarkan bunga-bungaku yang indah. Warnanya kuning dan bergerombol. Kupu-kupu akan iri ketika melihat bungaku yang bermekaran, begitu juga burung-burung.
Ketika musim hujan tiba. Aku berbunga dengan indahnya. Daun-daunku juga rimbun dan hijau. Meskipun musim panas, aku tetap berbunga. Ya, memang tak seindah di musim hujan karena aku juga kekurangan air. Tak ada juga yang berbaik hati mau menyiramku. Tak apalah yang penting aku sudah menyumbangkan sesuatu untuk kampus ini. Ya, keindahanku.
Tahun ini, beberpa kali aku menyumbangkan bungaku untuk keindahan gedung ini. Meskipun aku dipangkas, tapi aku tumbuh dengan cepat dan berbunga kembali. Aku senang dengan aktivitasku itu. Apalagi ketika ada mahasiswa yang datang menghampiriku kemudian memuji keindahanku. Aku akan lebih senang ketika mahasiswa itu memujiku seraya menyebut nama Tuhannya. Tapi, jarang sekali kutemukan mahasiswa seperti itu. Semoga, keindahan bungaku di musim selanjutnya akan membuat mahasiswa-mahasiswa itu memujiku dengan menyebut nama Tuhannya.

Senin, 31 Mei 2010

Ketika Matahari Ingkar Janji

Ketika Matahari Ingkar Janji
(Sebuah tugas menulis kreatif)

Pukul 03.30
Aku terbangun dari tidurku. Ah, aku tak bisa lagi tidur jika sudah terbangun menjelang fajar seperti ini. Sudahlah, lebih baik aku melakukan sesuatu yang bermanfaat.

Pukul 04.45
Aku telah selesai sholat subuh. Begitu juga ibu. Beliau mulai melakukan rutinitasnya, menyiapkan sarapan untuk kami sekeluarga. Kadang-kadang aku ikut membantunya. Tapi, kadang tidak. Seperti hari ini, aku memilih masuk kamar dan mengotak-atik laptopku.

Pukul 05.30
Aku keluar rumah. Tapi aku heran. Hari ini belum menunjukkan tanda-tanda akan siang, masih gelap sperti aku terbangun tadi. Tak ada cahaya padahal sudah jam setengah enam. Ibu pun merasakan keanehan ini. Apa mungkin jam di rumah yang terlalu cepat. Tapi, tadi sudah azan subuh.

Pukul 05.45
Masih belum ada tanda-tanda matahari akan terbit. Semua orang mulai ribut. Tetangga-tetanggaku nulai keluar rumah. Wajah mereka menunjukkan kekhawatiran. Pun aku dan keluarga.

Pukul 06.05
Tetap gelap. Padahal tak ada mendung yang menyelimuti langit. Tangisan anak manusia mulai terdengar. Tapi, masih sayup. Mereka semua khawatir, mengapa matahari hari ini ingkar janji.

Pukul 06.30
Tangis itu pecah. Matahari masih belum terbit juga. Anak manusia mulai bersujud, mohon ampun kepada Tuhannya. Aku pun mulai menangis. Matahari ingkar janji hari ini. Tapi, aku masih berharap semoga ia datang terlambat untuk menyinari bumi ini.
Pukul 07.10
Gemuruh tangis membahana. Di halaman rumah, di tepi jalan dan di masjid-masjid semua orang menangis.

Pukul 08.00
Semua orang telah terlarut dalam sujud mereka. Mereka telah lupa dengan semua urusan dunia mereka. Lupa bahwa hari ini ada janji untuk rapat penting, lupa hari ini ada ujian, lupa hari ini harus ke salon, dan lupa semuanya. Kini mereka pasrah dan takut. Entah takut kepada siapa? Mungkin Tuhannya. Aku ingin tertawa melihat ketakutan mereka. Tapi aku juga takut.

Pukul 12.00
Matahari benar-benar tak terbit hari ini dan semua orang kini telah bertaubat kepada-Nya. Mungkin hari kehancuran itu telah dekat, pikir mereka. Tapi, aku masih berharap matahari kan terbit esok pagi.

Rabu, 26 Mei 2010

Puisi Dua Hati (Aku dan Ira)

Ira
Aku ragu akan bisikan itu
Ia menyeru tapi ia membisu dengan sayu
Bara itu redup, nyala itu surut
Berpalingkah ia pada mentari lain, pagi?
Aku ragu!

Aku
Entahlah, mungkin cahaya ini terlalu redup
Sehingga aku hanya termangu
Terkurung dalam diam dan terperangkap sepi di tengah riuh ini
Aku termangu
Diam
Dan mungkin hilang disini

Ira
Aku butuh ruang rindu itu
Aku dingin di ala mini
Aku tersesat dalam kubangan yang kurancang sendiri
Aku menyesal
Sungguh menyesal
Haruskah kutelan pahit cinta yang kujunjung dengan asa?

Aku
Aku tak pernah menyesal telah tersesat di labirin ini
Kukatakan labirin, Ra.
Sebab ini hanya sebuah permainan, begitu kata temanku
Tapi aku hanya kecewa
Mengapa cahaya ini terlalu redup?
Kukatakan, jangan menyesal, Ra!
Biarkan kita bebas merasakan semua ini
Meski kita tak kan bisa mengungkapkannya
Dan akupun tak ingin mengungkapkannya
Biarlah kunikmati sendiri rasa ini
Biar Ia jadi taman tersendiri di hatiku

Ira
Pedih!
Kau tahu bagaimana gemuruh jiwaku?
Kau tahu bagaimana retaknya hatiku?
Mengapa aku harus menikmati permainan ini?
Harus kuakhiri!
Harus kuselesaikan!
Berhenti, cukup sampai disini!

Aku
Ketika harus diakhiri
Aku tak tahu dimana harus mengakhirinya karena ku juga tak tahu dimana awalnya?
Semua seolah tanpa awal dan tak tahu jalan untuk mengakhiri
Mungkin, aku benar-benar tersesat
Berulang kali
Dalam labirin yang sama dan aku tak pernah belajar untuk mencari jalan pulang
Terus saja aku tersesat disini

Ira
Aku dank au tetap jadi satu dalam istana nan kelabu
Tapi aku dank au yakin dunia selalu indah untuk dinikmati

Aku
Ya, memang dunia ini terlalu indah
Sehingga kita sangat menikmatinya meski kita tahu kita telah tersesat!
Indralaya, 24 mei 2010

Senin, 17 Mei 2010

Senja Tanpa Lembayung

Senja hadir tanpa lembayung
Langit suram, awan kelabu
Angin tak lagi bertiup perlahan
Daun tak lagi menari
Burung telah kembali keperaduan
Pada ufuk barat matahari tak bersinar
Pada ufuk timur langit berwarna kelabu
Dan kawat-kawat berduri pun tiba-tiba karat menyaksikan senja tanpa lembayung

Indralaya, 6 April 2010

Pengaduan

Pada langit yang berselimut mendung
Lihatlah pada diriku!
Wajahku berlukis luka-luka sayatan
Perih, berlumur darah
Pada seberkas cahaya di langit
Terangilah jalanku!
Mendung ini mengaburkan jalanku
Tak ingin aku tersesat dan hilang dalam rimba ini
Pada burung layang-layang yang menari di bawah awan
Perdengarkan untukku musik pengiring tarianmu
Tak ingin aku terus terperangkap sepi ini
Kemudian mati dalam sepi pula

Indralaya, 18 May 2010

Kamis, 29 April 2010

Jalan-Jalan dan Temukan Hal Baru

Bangun pagi, sholat subuh dan tidur lagi. Waduuh, cucu Mbah Surip dong, bngun tidur, tidur lagi, hehehe.... Atau kalau ga itu, bangun tidur idupin tv atau laptop nonton dech sampai mata merem lagi. Hoalah, ga asyik banget. Diemnya disitu aja, untung ga lumutan, karatan n jamuran, hehee...
Jalan dikit kek, keluar dari pertapaan. Kalau cuma diem aja di rumah bisa buntu pikiran. Terus ga ada hal-hal baru yang bisa kita lihat. Paling foto kemaren sore yang baru dipajang di meja belajar, ntu aja udah mulai bosen dilihat.
Keluar, jalan dan temukan hal-hal baru. Ya meskipun cuma jalan muter rumah atau kostan, siapa tahu mawar yang kemaren ditanam ibu ternyata udah berbunga atau rumput-rumput di belakang rumah ternyata udah setinggi atap (waduh, rumput ap pohon tuch) atau paling ga jalan ke rumah tetangga sebelah. Selain jalin silaturahmi ya siapa tahu aja tetangga sebelah lagi bikin kue bolu (^_^). Hal baru kan? Dari pada diem di rumah, belum tentu juga ibu bikin kue bolu n apa sich hal baru yang ditemukan disana? Ada, tv baru, kulkas baru, panci baru, piring baru, sendok baru n garpu baru. Naah ya, tp ingin lebih baru lagi, sono nah di pasar 16 ilir, lebih bnyak yg baru. Selain liat panci baru cs, kita akan menemukan hal2 baru yg bisa menginspirasi kita. Sekali2 jika punya waktu luang mengapa kita tidak jalan2 aja. Jalan kaki juga ga apa2. Tujuannya kemana aja, boleh ke kampus, ke masjid, ke rumah teman de-el-el lah pokoknya. sepanjang perjalanan itu temukan hal2 baru n temukan hikmah apa yg kita dapati. Dari pada diem di rumah mending kalau di rumahnya ada kerjaan, baca buku, tilawah atau ngerjain tugas. Kalau cuma tidur doang, ya mending jalan aja.
Mari jalan2 n temukan hal baru. Berkaryalah lewat hal2 baru itu. Jadilah orang yang istimewa. Kl kata dosenku orang istemewa itu adalah orang yg mampu belajar dari lingkungannya.
Intinya, kita akan menemukan lebih banyak hal baru jika kita tak hanya berada di lingkup kita saja.

Senin, 29 Maret 2010

Kejujuran Sebuah Cermin

Ketika kumenatap pada cermin ini, tak ada yang kulihat selain kejujuran. Cermin ini terlalu jujur untuk menghadirkan sosok diriku yang penuh dengan dusta ini. Dustaku pada diriku sendiri, bahkan tak pernah jujur kepada diri sendiri.
Di depan cermin ini aku benar-benar melihat diriku dengan segala kekurangan dan kelebihan yang telah Allah karuniakan. Maha Suci Allah yang telah memberikanku sepasang mata, tak buta dan tanpa cacat, minus ataupun silinder. mata inilah yang mampu melihat dunia, sungguh tak bersyukur aku yang selama ini hanya mampu melihat keindahan dunia saja tanpa melihat tanda-tanda kebesaran Allah di balik semua itu.
Maha Besar Allah yang telah menganugerahiku sepasang alis yang mampu menahan keringat dari dahiku ketika aku gerah. Dianugerahi pula kepadaku bulu mata agar tak masuk debu ke dalam mataku. Kumelihat pada sebuah hidung di wajahku, inilah kuasa-Nya yang menciptakan hidung tak sekedar untuk mencium namun untuk membantu sistem pernapasan manusia dan mempercantik wajah. Kumelihat lagi kepada dahi, pipi, bibir dan dagu. Inilah kebesaran Allah yang menciptakannya tanpa kekurangan. Akhirnya, aku melihat pada mulutku. Oh Tuhan, di dalam mulut ini ada lidah yang tak bertulang dan inilah yang paling sering menyakiti. Sungguh tak ada yang sia-sia semua penciptaan-Nya, apapun bentuknya.
Di depan cermin ini aku masih terpaku menatap diriku sendiri. Jika kata orang wajahku tak cantik, biarlah aku tak peduli. Di mataku tak ada yang jelek karena Allah menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Setiap wanita cantik, setiap laki-laki tampan. Setiap orang punya kelebihan tersendiri dan kelebihan itu akan menjadi kecantikan dan ketampanan tersendiri baginya. Tak ada lagi yang dapat kukatakan selain syukurku kepada-Nya atas segala anugerah yang Dia berikan kepadaku.

Indralaya, 21 Febuari 2010

Rabu, 10 Maret 2010

Senandung Malam

Hei, dengarlah pada sang malam!
Ia bersenandung bersama rintik gerimis dan desah angin yang menampar daun-daun.

Malam telah menyampaikan senandung sepi sejak pudar lembayung senja.
Langit telah memberi tanda tak kan menampakkan bintang-bintang sejak matahari beranjak ke barat.

Hei, malam tak berhenti bersenandung sepi,
dengarlah pada jarum jam, ia mengabarkan malam terus berlari dan semakin sepi.


Indralaya, 10 Maret 2010

Jumat, 26 Februari 2010

Catatan Perjalanan 2

Palembang-Indralaya
Air melimpah, rawa2 di sepanjang jalan menuju Indralaya tergenang, seperti lautan. Perumahan penduduk yang berada di tepi2 sungai tergenang air, masjid juga sekolah ikut tergenang. Sawah penduduk tak luput dari genangan air.
Hembusan angin dari jendela bus Indralaya mengantarkanku pada sebuah renungan.
Entah bagaimana jika aku hidup di daerah Pemulutan (daerah yang tergenang banjir) dan sekitarnya?
Ya Rabb...
Sungguh beruntung hidupku yang tak pernah merasakan banjir seperti itu. Tak pernah tahu bagaimana rasanya hidup ditengah genangan air dengan gubuk yang hampir roboh. Yang aku tahu, aku hidup dengan air yang selalu bersahabat. Sederas apapun hujan, aku tak pernah merasakan luapannya.
Terkadang diri ini selalu memandang ke atas dan lupa kepada yang di bawah. Astaghfirullahaladzim...
Kawan, beruntungnya kita yang tak merasakan apa yang mereka rasakan. Bersyukurkah kita dengan nikmat yang telah Allah berikan ini?
Semoga kita adalah insan yang bersyukur itu.
Duhai Rabb...
Kuatkan mereka yang sedang Engkau berikan ujian itu. Berilah kesabaran menghadapinya, biarkan mereka senantiasa bersyukur dengan segala bentuk nikmat-Mu. Amiin.

Tentang Ngaret lagi

Always waiting for....
Sepertinya kata2 itu tepat untuk menggambarkan keadaan orang2 yang punya prinsip tak suka ditunggu, akan tetapi lebih baik menunggu.
Menunggu, mungkin aku telah sampai pada puncak jengkelnya selalu menunggu. Aku masih bisa menahan lidahku untuk tak menggerutu akan tetapi aku tak bisa menahan jengkel di hatiku.
Telah kucoba memanfaatkan waktu dengan membaca buku, Al Qur'an atau buka facebook dan menulis di blog. Tapi, jika terlalu lama bosan juga akhirnya.
Satu smester terlewati aku kuliah, selama itu pula aku harus sering merasakan betapa bosannya menunggu. Sering pikiran ini mengajakku agar tak datang tepat waktu, bukankah meskipun datang tepat waktu juga mesti menunggu? Tak masalah jika menunggunya hanya sebentar. Jika lama, sejam atau lebih? Bukankah itu menyia2kan waktu?
Entah sampai kapan kebiasaan ngaret ini akan hilang. Satu hal yang ku khawatirkan, kebiasaan ini akan terus dipelihara oleh orang2. Entah bagaimana negara ini akan maju jika kebanyakan kita hobby ngaret?
Harapanku, semoga kebiasaan ngaret ini tak jadi sebuah kebudayaan.

Kamis, 25 Februari 2010

Pertolongan Allah itu nyata

Maha Suci Engkau ya Allah..
Maha Suci Engkau yang telah melapangkan bagiku jalan ini.
Sungguh, Allah akan melapangkan jalan kita ketika kita bersabar dalam kesempitan.
Maha Besar Engkau ya Allah...
Ketika aku benar2 terjatuh dan terpuruk, Engkau tunjukan kebesaran-Mu.
Sungguh diri ini yang tak pandai bersyukur. Begitu nyata pertolongan dari-Nya. Masih saja diri ini sering melupakan-Nya. Astaghfirullahaladzim...
Percayalah!
Yakinlah!
Pertolongan Allah itu nyata.
Bersabarlah menghadapi ujian dari-Nya. Dengan sabar semua jadi indah. Dengan sabar tanpa kita sadari Allah mendekap kita dan memudahkan jalan kita. Bersabarlah saudaraku, semoga teriring keikhlasan bersamanya.
Pertolongan Allah itu begitu nyata.

Dia Yang Tak Pernah Meninggalkanku

Duhai Rabb....
Engkau tak pernah meninggalkanku meski sejenak. Tapi, akulah yg meninggalkan-Mu. Akulah yang selama ini sering lupa pada-Mu, sering lalai dan sombong. Astaghfirullahaladzim...
Duhai Yang Maha Pengasih.
Di setiap detak jantungku, Engkau biarkan aku berada dalam lautan kasih-Mu. Tak pernah Engkau biarkan aku tak merasakan kasih-Mu meski sejenak.
Duhai Yang Maha Penyayang..
Samudra kasih sayang-Mu tak bertepi. Engkau biarkan aku tenggelam dan menyelaminya agar aku tahu betapa Engkau mengasih dan menyayangiku.
Duhai Allah...
Tiada Tuhan selain Engkau. Engkaulah sebaik2nya penolong. Maha Suci Engkau duhai pemilik semesta ini.

Rabu, 24 Februari 2010

Izinkan Aku Jatuh Cinta

Ya Rabb...
Dalam keheningan waktu ini aku memohon; izinkan aku jatuh cinta. Kala melihat matahari menampakkan diri. Izinkan aku jatuh cinta. Kala melihat titik hujan membasahi bumi.

Izinkan aku jatuh cinta ketika semilir angin telah menjadi musik bagi daun2 untuk menari dan rintik gerimis menjadi senandung mozart yg lembut menghanyutkan.
Izinkan aku jatuh cinta ya Rabb

izinkan aku jatuh cinta ketika melihat setitik embun yang berkilau di ujung daun, ketika mendengar seruan untuk menemui-Mu dari menara2 masjid.
Izinkan aku jatuh cinta, ketika kalimat-Mu dilantunkan lidah2 suci. Ketika burung2 bercericit bertasbih kepada-Mu.
Izinkan aku jatuh cinta ketika menyaksikan semua kebesaran-Mu di semesta ini ya Rahiim.
Izinkan aku jatuh cinta di setiap detak jantungku ya Rabb...
Jatuh cinta kepada-Mu karena kutahu jatuh cinta itu indah.

Rabu, 17 Februari 2010

Rizki Iya, Ujian Juga Iya

Cuaca sekarang sedang tak menentu. Kadang panas, tapi tiba-tiba hujan, padahal kita sudah siap2 berangkat kerja, ke kampus, sekolah atau sudah siap2 hang out bareng temen. Terus, kadang gerimis doang dan kadang hujan + panas. Nah ya... Sebenernya lagi musim apa sih? Pancaroba kali ya...
Namun, sadarkah kita? Ternyata lewat hujan, panas, gerimis maupun hujan+panas itu Allah sedang menurunkan rizki-Nya kepada kita dan juga Dia sedang menguji kita. Naah... Kok bisa?? Ya bisalah..
Allah SWT memberikan rizki lewat hujan, pasti pada tahu dong, manusia dan makhluk hidup lainnya ga bisa hidup tanpa air. Nah, apa namanya kalo bukan rizki yang diturunkan Allah untuk membantu kehidupan makhluk yang ada di muka bumi ini?
Terus kalo lewat terik matahari, gimana tu?
Kita lihat ke hal2 yang sederhana, kalo hujan terus2an, jemuran kering ga? Kering dong, distrika aja, nah ya... Tetep kering distrika sama kering panas matahari beda. Itu rizki juga namanya, apa lagi buat para PRT, buat pedagang asongan, di cuaca yang cerah dia bisa menjajakan dagangannya, apalagi di jalanan yang orang2 pada kehausan, nah ladangnya tuch buat dia ^_^
Nah, sekarang kalo Allah sedang menguji kita gimana lagi tuch?
Rasanya semua udah pada tahu, kalo matahari lagi sumringah tu, pada mengeluh kepanasan dan kalo hujan lagi ceria2nya turun, pada mengeluh kedinginan dan takut kebanjiran! Hayoo, bener ga?
Dibalik semua itu, Allah sedang menguji kita, bersabarkah kita menghadapi semua itu. Berhentikah kita berjuang karena terhalangi hujan dan panas atau bersyukurkah kita terhadap anugerah itu?
Allah menguji manusia tidak hanya dengan musibah atau sebagainya akan tetapi Dia juga menguji manusia dengan nikmat yang Dia berikan.
'Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan' (QS. Ar Rahman:13).

Senin, 15 Februari 2010

Tentang yang Unik di Angkot Sampai Tentang Syukur

Di angkot menuju kampus tadi pagi tanpa sengaja aku memperhatikan wajah-wajah yang ada di depan. Tiba-tiba aku tersentak, kuperhatikan lagi wajah mereka. Subhanallah!! Aku menemukan keunikan tersendiri pada diri mereka. Si A ini memiliki rupa seperti ini, si B seperti itu dan si C berbeda lagi. Maha Suci Allah yang menciptakan keunikan-keunikan sendiri pada setiap orang.
Baru kusadari, tak ada manusia yang jelek di dunia ini karena semua Allah ciptakan dengan keunikan masing-masing. Itulah kelebihan mereka, itulah cantik atau tampan mereka. Tapi, sebaik-baiknya kecantikan itu adalah kecantikan yang berasal dari hati. Btw kalau laki-laki pakai istilah apa ya? Ketampanan yang berasal dari hati? Ada ga ya istilah itu. Ya sudahlah, begitulah kira-kiranya, jika hati manusia itu sudah baik maka baiklah seluruh dirinya.
Subhanallah, memang hari ini ada teguran halus supaya aku bisa bersyukur. Dalam kesendirian di kostan, tiba-tiba kakiku di serang nyamuk-nyamuk kecil. Sadis. Mereka menggigit sampai kulitku benjol-benjol + gatal lagi.
Saat itu pula, tiba-tiba aku ingat Palestina. Astaghfirullahaladzim... Baru dihadapkan dengan nyamuk pun aku sudah mengeluh, bagaimana jika aku berada di Palestina? Bukan dengung nyamuk yang dihadapi tetapi desing peluru. Bukan nyamuk yang menyerang tetapi tentara-tentara zionis. Astaghfirullah...
Ya Rabb... Jadikanlah kami hamba-Mu yang senantiasa bersyukur atas segala anugerah-Mu. Jangan biarkan kami terlarut dalam kekufuran itu. Amiin..

Sabtu, 13 Februari 2010

Aku Malu pada Diriku Sendiri

Akhirnya, aku malu pada diriku sendiri. Tak mampu kutatap wajahku sendiri. Cermin ini terlalu jujur. Tak ada kebohongan. Sungguh aku malu.
Ya Allah, terlalu sering aku melupakan-Mu. Terlalu sering aku mengingkari janjiku pada diriku sendiri.
Ya Allah, ketika kuharus jujur pada diriku sendiri, aku malu ya Allah. Aku malu karena terlalu sering berbuat dosa.

Selasa, 09 Februari 2010

Mimpi Itu...

Berharap ketika aku terbangun dan membuka mataku, semua telah berlalu karena semua itu hanyalah sebuah mimpi. Tapi, tak kunjung aku terbangun dari tidur ini. Ah, semakin aku berharap, hanya sebatas mimpi, semakin jelas bahwa ini adalah nyata. Nyata bukan sekedar mimpi. Tapi, aku masih berharap hanya mimpi. Tuhan.... Biarkan ini menjadi sebuah mimpi.
Kemudian aku tersadar, aku tak bisa menepis jalan yang telah digariskan Allah. Inilah jalan-Nya. Tak ada mimpi disini. Aku hidup di dunia yang nyata, bukan dunia cinderella atau putri salju. Apa pun bisa terjadi jika Allah menghendaki. Langit juga kan runtuh jika Dia menghendaki. Percayalah, ini adalah sebuah kenyataan yang harus kutemui di kehidupanku.

Selasa, 02 Februari 2010

Belajar Dari Semua yang Dapat Dipelajari

Yuk belajar....
Belajar dari semua yang ada di sekitar kita.
Belajar dari kesetiaan sang mentari yang tak pernah ingkar janji untuk terbit setiap paginya.
Belajar dari semangat burung2 yang tak henti bersenandung.
Belajar dari sebatang pohon yang memberi buah juga meneduhkan.
Belajar dari sebatang kelapa yang tinggi menjulang tetapi kokoh.
Belajar dari debur ombak yang mencium pantai kemudian kembali lagi ke lautan.
Belajar dari sebongkah batu karang yang tak bergeming dihantam ombak, belajar dari setangkai mawar yang indah namun berduri, dari kupu2 yang berterbangan di antara bunga2, dari setangkai bunga plastik yang indah namun tak memberi kehidupan, dari cermin yang begitu jujur memperlihatkan diri kita apa adanya dan belajar dari setiap peristiwa yang telah terlewati.
Tak ada yang tak dapat dipelajari karena semua yang Allah ciptakan mengandung pelajaran berharga. Hanya kita butuh kepekaan untuk melihat setiap pelajaran itu.
Semangat!!

Selasa, 12 Januari 2010

Sebuah Catatan Perjalanan

Ketika matahari mulai meninggi, kulafadzkan Basmalah dan melangkahkan kaki meninggalkan rumah ke-tigaku. Sekedar pamit, kujabat tangan ayuk dan sahabatku. Perjalananku hari ini dimulai.
Berawal dari bus kota yang memang tidak penuh, tapi tetap saja dadaku terasa sesak. Pasalnya, musik bus kota yang selalu saja keras, terasa panas telinga ditambah penumpang juga kernetnya merokok. Masya Allah. Apakah mereka tak menyadari kalau banyak orang yang amat membenci rokok dan musik-musik seperti itu? Mereka tak bisa egois, meskipun itu hak mereka. Akan tetapi, hak merekapun dibatasi oleh hak-hak orang lain.
Terlepas dari kesesakan itu, aku harus berjalan kaki dari Masjid Agung Palembang ke benteng kuto besak (BKB), tak apalah, sedikit berolah raga. Telah kutemui seorang pengemis, ya Allah begitu banyak orang yang kurang beruntung di dunia ini, namun di antara mereka tetap bersyukur. Bahkan orang-orang yang sangat beruntung yang tak pandai bersyukur. Ampuni hamba yang tak pandai bersyukur ya Rabb.
Setelah sedikit merenungi diri, aku bertemu pamanku. Subhanallah, telah lama aku tak bertemu dengannya. Aku juga bertemu dengan adik kakekku yang sebelumnya belum pernah kulihat. Subhallah...
Kini, kumulai mengarungi sungai musi, sebuah perjalanan menuju tempat yang terpencil dan jauh dari keramaian. Empat jam perjalanan dengan speedboat.
Kembali kulafadzkan Basmalah dan speedboat pun mulai bergerak. Bersama kilau sungai musi di pagi hari, kumeninggalkan kota Bari ini dengan harapan berjumpa lagi di waktu yang akan datang.

Sedikit Review Tentang Hal-Hal Kecil

waktu memang tak kan pernah berhenti berputar, ia terus berjalan tanpa peduli apakah kita merasa sakit atau merasa sehat. Tanpa kita sadari kita telah berjalan begitu jauh. Telah banyak hal yang telah terlewati.
Dalam perjalanan itu, terkadang ada kesempatan-kesempatan yang tak sengaja terlewati, terkadang ada pula kesempatan yang sengaja kita tinggalkan karena mementingkan hal yang tak begitu penting. Tanpa kita sadari, kesempatan-kesempata yang terlewatkan itu ternyata begitu berharga. Ada penyesalan terbesit dalam pikiran kita.
Banyak kesempatan terlewati, bayak pula hal-hal kecil yang terlupakan. Sehingga tanpa disadari hal itu menjadi masalah dikemudian hari. Terkadang kita lpa, ternyata halkecil itu apa bila terus kita biarkan aka menjadi seuatu masalah yang besar. Mungkin telah saatnya kita merenungi dan me-review hal-hal kecil yang terlewatkan agar bisa menjadi pelajaran berharga di masa yang akan datang.

Senin, 11 Januari 2010

Terinspirasi Dari Ayam

Ketika matahari telah bangun dari peraduannya dan dengan cahaya lembutnya, perlahan ia menyibak tirai malam hingga hilang pekat malam.
Perlahan kubuka pintu, subhanallah... Begitu sejuknya udara pagi. Aku pun duduk-duduk di teras, tak lain tujuanku hanya untuk menikmati udara pagi. Untuk kesekian kalinya aku terpana melihat ayam-ayam yang berkeliaran di kebun kecil depan kost-anku. Mereka mengais tanah beramai-ramai, mematuk-matuk sesuatu di tanah, tak lama kemudian mereka lari dari kebun itu.
Sejenak ku termenung, aku baru menyadari, setiap kali aku membuka pintu pagi-pagi sekali mereka telah ada di kebun itu. Namun, ketika aku membuka pintu lebih siang dari biasanya mereka tak ada lagi.
Sungguh, pelajaran berharga dari ayam-ayam itu, pagi-pagi sekali mereka telah mengais rizki, sedangkan kita, kadang matahari telah sepenggallah naik, kita masih bermalas-malasan, apalagi hari libur. Aku teringat kata-kata nenekku, katanya; "jangan bangun kesiangan nanti rizkinya dipatok ayam."
Sebuah analogi yang seharusnya menjadi pelajaran untuk bangun lebih pagi. Memulai sebuah perubahan dengan hal-hal kecil dan mulailah perubahan itu dengan bangun pagi. Insya Allah banyak manfaatnya untuk jasmani dan rohani.