Nurul's Profil

Foto saya
Seorang ibu, guru, dan pembelajar.

Minggu, 13 Juni 2010

Bukan Puisi Air Mata

Aku ingin menulis puisi air mata
Tapi, ia kering sebelum aku menemukan sebatang pena dan selembar kertas
Serangkai kata tersendat di leher
Mencekikku hingga tersengal-sengal nafas ini
Duri pun telah menusuk hati
Tapi tetap kering air mata
Tetap tersendat kata di leherku
Tetap tersengal-sengal nafasku
Dan akhirnya, puisi ini menjadi bukan puisi air mata
Palembang, 12 June 2010

Petang yang Terbuang

Mentari ini telah menuju ke barat
Hari akan segera berakhir
Tapi, angin tak bertiup untuk menyapu awan yang putih di bawah langit
Biar biru itu mewarnai langit dari barat ke timur dan dari utara ke selatan

Deru itu bukan suara petang
Hanya bisik tanpa rupa berdesis
Milik petang hanya hening
Tapi hening pun terusik
Sebab gemuruh yang datang tiba-tiba dari dua penjuru mata angin
Utara dan selatan

Petang terbuang
Ia berakhir tanpa rupa

Indralaya, 10 Juni 2010

Sabtu, 05 Juni 2010

Aku Sebatang Asoka

Aku Sebatang Asoka
(sebuah tugas menulis kreatif)

Aku adalah sebatang asoka. Aku tumbuh di depan sebuah gedung perkuliahan salah satu universitas negeri di Indonesia. Entah berapa tahun aku disini. Mungkin lebih dari tujuh tahun. Tapi, aku tetap semangat. Setiap musim berbunga aku selalu mengeluarkan bunga-bungaku yang indah. Warnanya kuning dan bergerombol. Kupu-kupu akan iri ketika melihat bungaku yang bermekaran, begitu juga burung-burung.
Ketika musim hujan tiba. Aku berbunga dengan indahnya. Daun-daunku juga rimbun dan hijau. Meskipun musim panas, aku tetap berbunga. Ya, memang tak seindah di musim hujan karena aku juga kekurangan air. Tak ada juga yang berbaik hati mau menyiramku. Tak apalah yang penting aku sudah menyumbangkan sesuatu untuk kampus ini. Ya, keindahanku.
Tahun ini, beberpa kali aku menyumbangkan bungaku untuk keindahan gedung ini. Meskipun aku dipangkas, tapi aku tumbuh dengan cepat dan berbunga kembali. Aku senang dengan aktivitasku itu. Apalagi ketika ada mahasiswa yang datang menghampiriku kemudian memuji keindahanku. Aku akan lebih senang ketika mahasiswa itu memujiku seraya menyebut nama Tuhannya. Tapi, jarang sekali kutemukan mahasiswa seperti itu. Semoga, keindahan bungaku di musim selanjutnya akan membuat mahasiswa-mahasiswa itu memujiku dengan menyebut nama Tuhannya.