Nurul's Profil

Foto saya
Seorang ibu, guru, dan pembelajar.

Selasa, 12 Januari 2010

Sebuah Catatan Perjalanan

Ketika matahari mulai meninggi, kulafadzkan Basmalah dan melangkahkan kaki meninggalkan rumah ke-tigaku. Sekedar pamit, kujabat tangan ayuk dan sahabatku. Perjalananku hari ini dimulai.
Berawal dari bus kota yang memang tidak penuh, tapi tetap saja dadaku terasa sesak. Pasalnya, musik bus kota yang selalu saja keras, terasa panas telinga ditambah penumpang juga kernetnya merokok. Masya Allah. Apakah mereka tak menyadari kalau banyak orang yang amat membenci rokok dan musik-musik seperti itu? Mereka tak bisa egois, meskipun itu hak mereka. Akan tetapi, hak merekapun dibatasi oleh hak-hak orang lain.
Terlepas dari kesesakan itu, aku harus berjalan kaki dari Masjid Agung Palembang ke benteng kuto besak (BKB), tak apalah, sedikit berolah raga. Telah kutemui seorang pengemis, ya Allah begitu banyak orang yang kurang beruntung di dunia ini, namun di antara mereka tetap bersyukur. Bahkan orang-orang yang sangat beruntung yang tak pandai bersyukur. Ampuni hamba yang tak pandai bersyukur ya Rabb.
Setelah sedikit merenungi diri, aku bertemu pamanku. Subhanallah, telah lama aku tak bertemu dengannya. Aku juga bertemu dengan adik kakekku yang sebelumnya belum pernah kulihat. Subhallah...
Kini, kumulai mengarungi sungai musi, sebuah perjalanan menuju tempat yang terpencil dan jauh dari keramaian. Empat jam perjalanan dengan speedboat.
Kembali kulafadzkan Basmalah dan speedboat pun mulai bergerak. Bersama kilau sungai musi di pagi hari, kumeninggalkan kota Bari ini dengan harapan berjumpa lagi di waktu yang akan datang.

Sedikit Review Tentang Hal-Hal Kecil

waktu memang tak kan pernah berhenti berputar, ia terus berjalan tanpa peduli apakah kita merasa sakit atau merasa sehat. Tanpa kita sadari kita telah berjalan begitu jauh. Telah banyak hal yang telah terlewati.
Dalam perjalanan itu, terkadang ada kesempatan-kesempatan yang tak sengaja terlewati, terkadang ada pula kesempatan yang sengaja kita tinggalkan karena mementingkan hal yang tak begitu penting. Tanpa kita sadari, kesempatan-kesempata yang terlewatkan itu ternyata begitu berharga. Ada penyesalan terbesit dalam pikiran kita.
Banyak kesempatan terlewati, bayak pula hal-hal kecil yang terlupakan. Sehingga tanpa disadari hal itu menjadi masalah dikemudian hari. Terkadang kita lpa, ternyata halkecil itu apa bila terus kita biarkan aka menjadi seuatu masalah yang besar. Mungkin telah saatnya kita merenungi dan me-review hal-hal kecil yang terlewatkan agar bisa menjadi pelajaran berharga di masa yang akan datang.

Senin, 11 Januari 2010

Terinspirasi Dari Ayam

Ketika matahari telah bangun dari peraduannya dan dengan cahaya lembutnya, perlahan ia menyibak tirai malam hingga hilang pekat malam.
Perlahan kubuka pintu, subhanallah... Begitu sejuknya udara pagi. Aku pun duduk-duduk di teras, tak lain tujuanku hanya untuk menikmati udara pagi. Untuk kesekian kalinya aku terpana melihat ayam-ayam yang berkeliaran di kebun kecil depan kost-anku. Mereka mengais tanah beramai-ramai, mematuk-matuk sesuatu di tanah, tak lama kemudian mereka lari dari kebun itu.
Sejenak ku termenung, aku baru menyadari, setiap kali aku membuka pintu pagi-pagi sekali mereka telah ada di kebun itu. Namun, ketika aku membuka pintu lebih siang dari biasanya mereka tak ada lagi.
Sungguh, pelajaran berharga dari ayam-ayam itu, pagi-pagi sekali mereka telah mengais rizki, sedangkan kita, kadang matahari telah sepenggallah naik, kita masih bermalas-malasan, apalagi hari libur. Aku teringat kata-kata nenekku, katanya; "jangan bangun kesiangan nanti rizkinya dipatok ayam."
Sebuah analogi yang seharusnya menjadi pelajaran untuk bangun lebih pagi. Memulai sebuah perubahan dengan hal-hal kecil dan mulailah perubahan itu dengan bangun pagi. Insya Allah banyak manfaatnya untuk jasmani dan rohani.