Ketika Matahari Ingkar Janji
(Sebuah tugas menulis kreatif)
Pukul 03.30
Aku terbangun dari tidurku. Ah, aku tak bisa lagi tidur jika sudah terbangun menjelang fajar seperti ini. Sudahlah, lebih baik aku melakukan sesuatu yang bermanfaat.
Pukul 04.45
Aku telah selesai sholat subuh. Begitu juga ibu. Beliau mulai melakukan rutinitasnya, menyiapkan sarapan untuk kami sekeluarga. Kadang-kadang aku ikut membantunya. Tapi, kadang tidak. Seperti hari ini, aku memilih masuk kamar dan mengotak-atik laptopku.
Pukul 05.30
Aku keluar rumah. Tapi aku heran. Hari ini belum menunjukkan tanda-tanda akan siang, masih gelap sperti aku terbangun tadi. Tak ada cahaya padahal sudah jam setengah enam. Ibu pun merasakan keanehan ini. Apa mungkin jam di rumah yang terlalu cepat. Tapi, tadi sudah azan subuh.
Pukul 05.45
Masih belum ada tanda-tanda matahari akan terbit. Semua orang mulai ribut. Tetangga-tetanggaku nulai keluar rumah. Wajah mereka menunjukkan kekhawatiran. Pun aku dan keluarga.
Pukul 06.05
Tetap gelap. Padahal tak ada mendung yang menyelimuti langit. Tangisan anak manusia mulai terdengar. Tapi, masih sayup. Mereka semua khawatir, mengapa matahari hari ini ingkar janji.
Pukul 06.30
Tangis itu pecah. Matahari masih belum terbit juga. Anak manusia mulai bersujud, mohon ampun kepada Tuhannya. Aku pun mulai menangis. Matahari ingkar janji hari ini. Tapi, aku masih berharap semoga ia datang terlambat untuk menyinari bumi ini.
Pukul 07.10
Gemuruh tangis membahana. Di halaman rumah, di tepi jalan dan di masjid-masjid semua orang menangis.
Pukul 08.00
Semua orang telah terlarut dalam sujud mereka. Mereka telah lupa dengan semua urusan dunia mereka. Lupa bahwa hari ini ada janji untuk rapat penting, lupa hari ini ada ujian, lupa hari ini harus ke salon, dan lupa semuanya. Kini mereka pasrah dan takut. Entah takut kepada siapa? Mungkin Tuhannya. Aku ingin tertawa melihat ketakutan mereka. Tapi aku juga takut.
Pukul 12.00
Matahari benar-benar tak terbit hari ini dan semua orang kini telah bertaubat kepada-Nya. Mungkin hari kehancuran itu telah dekat, pikir mereka. Tapi, aku masih berharap matahari kan terbit esok pagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar