Mudiiiiikkkkk...
Pulang kampung hal yang paling membuat hati loncat-loncat (kalo bisa loncat). Tentunya aku juga sangat bahagia saat tiba waktunya untuk pulang kampung. Selain me-refresh pikiran setelah satu semester mumet dengan tugas-tugas kuliah dan semua hal yang berhubungan denngan kampus, saat pulang kampung alias pulkam, banyak hal baru yang kudapati. Ada saja cerita dan perubahan dari desaku.
Pulkam kali ini, ternyata di desaku sedang musim buah-buahan, alhasil baru sampai rumah akku sudah absen buah-buah. Mulai dari rambutan, duku, durian, manggis, dan buah-buah yang rasanya asem luar biasa. Tidak hanya itu, ternyata di desaku sedang musim panen. Ladang yang disebut 'uma' oleh orang di desaku sudah menguning. Padi yang ditanam sudah pada dipanen. Wuuuihh, ladang menguning semua. Aku ikut dong memanennya. Rugi melewatkan kesempatan ini.
Ceritanya baru dimulai ne. Kemarin aku ke ladang pamanku bersama saudara-saudaraku yang lain juga dengan ibu dan bibi-bibiku. Eh, pas kami sedang memtik padi, ada sepupuku yang berjalan dari arah pondok di 'uma' itu ke arah kami seraya bicara dengan handphonenya.
"Benar kata atuk usang* dulu, kalau suatu hari nanti orang-orang akan bicara sendiri di jalan-jalan denngan kotak, orang-orang juga akan masuk kotak, dan nantinya orang akan memberi sesuatu di orang seberang pulau dengan sekejap mata." Tiba-tiba salah satu bibiku menyeletuk.
"Iya, Amang xxx, juga pernah bicara seperti itu," Sambung yang lain.
Awalnya, aku diam. Tak begitu memperhatikan. Tapi, tiba-tiba aku merasa ada suatu yang aneh dari pernyataan tadi. Ya, aku baru sadar, yang pernah mengatakan seperti itu adalah seorang atuk yang sekarang jasadnya pun mungkin telah menyatu dengan tanah. Berarti ia mengatakan hal itu jauh sebelum teknologi seperti saat ini. Jauh sebelum televisi masuk desa, apalagi handphone. Mungkin juga jauh sbelum kata 'transfer' familiar di masyarakat.
Ya, aku baru sadar bahwa, orang bicara sendiri dengan kotak itu mungkin saja bicara di handphone, orang-orang yang masuk kotak mungkinsaja televisi seperti saat ini, dan orang-orang yang saling memberi bisa saja sistem transfer sepereti saat ini. Aku teringat, orang tuaku dengan hitungan menit bisa mentransfer uang kepadaku yang jauh di seberang pulau.
Sekarang, aku tersadar bahwa orang-orang terdahulu, telah meramalkan perkembangan teknologi seperti saat ini. Meskipun mereka berada di pelosok desa. Jauh, Jauh sebelum berbagai teknologi masuk ke desa.
Subhanallah....
*atuk usang: kakek buyut

