Segala sesuatu yang akam kita lewati butuh proses. Begitupun untuk mencapai sebuah tujuan besar. Mustahil kita langsung bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. Seorang Thomas Alfa Edison harus berkali – kali mencoba sehingga ia berhasil membuat sebuah bola lampu. Seorang JK Rowling, pengarang Harry potter menulis dan mengumpulkan ide – idenya di tissue toilet. Setiap tahap yang mereka lalui adalah proses hingga mereka mencapai puncaknya seperti saat ini. Tak bisa kita lupakan begitu saja bagaimana proses seorang laki – laki mulia, pembawa risalah kebenaran dalam menegakan kalimat Allah ratusan tahun yang lalu. Bukan proses mudah, bukan dengan sekali mendapat wahyu langsung disebarkan secara terang –terangan. Tapi, tahapan demi tahapan dilaluinya dengan ujian yang tak ringan hingga akhirnya islam bersinar di bumi Allah hingga detik ini.
Jika kita berpikir lebih sederhana lagi. Jangankan mencapai tujuan besar kita, untuk mencapai hal kecil saja butuh proses. Meskipun katanya instan. Coba kita mengulas kembali bagaiamana proses kita ketika akan memasak sebungkkus mie instan. Apakah langsung jadi? Ternyata tidak kawan! Kita masih butuh proses agar mie tersebut siap saji. Kita butuh menghidupkan kompor, memasak air, dan sterusnya hingga mie tersebut siap saji. Tak instan kan meski dikatakan instan. Hanya prosesnya tak memakan waktu lama.
Seorang manusia tak akan pernah berhenti berproses sampai nyawanya terlepas dari raga. Tinggal kita memilih, kea rah mana proses itu, kebaikankah atau malah keburukan. Dan Allah telah memberi petunjuk melalui Al – Qur’an maupun melalui ciptaan-Nya untuk berproses kepada kebaikan.
Wallahu’alam.
Inderalaya, 18 Oktober 2011
cahaya hati insya Allah akan menjadi kumpulan tulisan saya, baik berupa puisi,cerpen,artikel atau catatan-catatan ringan saya.
Laman
Nurul's Profil
Senin, 17 Oktober 2011
Setelah Titik*
Aku benci ketika orang-orang bercerita tentang kegagalanku. Aku ingin marah ketika mereka menatapku iba. Aku tak perlu dikasihani sebab aku tahu apa yang mereka lakukan itu tak tulus. Mungkin di belakangku mereka menertawaiku. Aku tahu, apa yang mereka lakukan itu sekedar untuk mengatakan bahwa aku adalah anak paling bodoh di dunia.
Aku benci ketika harus mengingat bahwa aku gagal untuk kedua kalinya. Gagal ujian nasional di SMP dan harus mengikuti program paket B sehingga ijazahku bukanlah ijazah SMP tempat aku sekolah. Akan tetapi, ijazah paket B. Pedih rasanya. Tiga tahun menuntut ilmu tapi harus rela tak mendapatkan ijazah yang selama ini orang-orang kejar, termasuk aku.
Tiga tahun kemudian, masih kegagalan yang sama. Heh, aku tidak lulus ujian SMA. Tidak lulus ujian SMA! Aku tak tahu, apa salahku sehingga aku gagal pada titik yang sama atau aku yang terlalu bodoh?
Aku benci keadaanku. Aku benci semua ini. Apakah jalanku diciptakan terlalu rumit? Ah, orang-orang menjadi iba padaku padahal aku tak suka itu. Mereka juga memandangku gagal.
Tidak. Aku tidak akan bercerita dari sudut pandang mereka yang menganggap gagal. Ya, meskipun aku tahu aku memang gagal. Tapi aku akan bercerita dari sudut pandang ibuku. Sebuah pandangan yang membuat kebencian pada jalanku hidupku perlahan-lahan hilang. Sudut pandang yang berbeda dengan orang-orang yang ada di sekitarku. Sudut pandang yang tak pernah menyudutkanku. Mungkin inilah yang dinamakan kasih ibu. Kasih yang diberikan untuk menghilangkan semua kebencian dalam diri anaknya.
Aku masih ingat, senja itu setelah pengumuman kelulusan SMP. Aku mengurung diri di kamar kemudian kabur lewat jendela. Aku berlari di antara pematang sawah dan berhenti di dekat sungai kecil di pinggiran kampungku. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku tak peduli jika ada orang yang melihatku dan mengatakan aku adalah anak laki-laki yang paling cengeng di dunia. Terserah mereka. Toh, mereka tak merasakan apa yang aku rasa.
Dalam tangisku, aku merasakan sentuhan lembut dibahuku.
“Nak, lihatlah air itu. Ia tak berhenti mengalir meskipun ada akar-akar kayu dan bebatuan. Ia tak berhenti meski banyak rintangan di depannya, meski kadang warnanya pun harus keruh karena ulah atau tercemar karena ulah manusia. Ia tak kan berhenti sampai ia menemukan muaranya.”
Aku menatap ke depan. Lurus dan kosong. Tangisku meninggalkan isak yang membuat dadaku sesak.
“Nak, jalan ini masih panjang. Tak kan berhenti pada titik ini. Biarlah titik ini berakhir disini. Inilah hasil jalanmu. Jangan pernah menyesalinya. Bukan keinginanmu atau keinginan ibu. Tapi inilah jalanmu. Ikutilah jalan ini dan bersabarlah di jalan ini.”
“Adi telah mengecewakan ayah dan ibu. Bukankah Adi pernah mengatakan bahwa Adi akan membuat ayah dan ibu bangga dan Adilah pemenang itu. Tapi, kenyataannya. Adi telah membuat ibu kecewa. Adi kalah bu.”
“Kata siapa Adi telah membuat ayah dan ibu kecewa? Kata siapa Adi sudah kalah?”
Aku menatap wajah ibu. Matanya memancarkan kasih yang tulus. Bibirnya menyungging senyum.
“Adi, ayah dan ibu tak pernah kecewa dan tak ada yang mengatakan Adi kalah. Adi belum kalah, pertarungan Adi belum selesai. Ini awal baru untuk Adi. Ibu malah bangga jika Adi masih mau melangkah dan ibu kecewa jika Adi berhenti sampai disini.”
Air mataku masih mengalir. Kurasakan tangan lembut ibu menghapusnya. Serta merta kupeluk tubuh wanita itu. Terimakasih ya Allah, Engkau menganugerahiku ibu yang luar biasa seperti ini, bisik hatiku.
****
Ibu selalu mengajarkanku tentang sabar. Begitu juga ketika aku tak lulus ujian SMP dan tak bisa melanjutkan ke sekolah negeri. Allah punya jalan yang lebih indah untukku, begitu kata ibu. Aku selalu ingat kata-katanya. Aku pun yakin dengan hal itu.
Tiga tahun berlalu, tak terasa ujian nasional akan dilaksanakan. Aku mulai was-was. Mungkin masih ada trauma masa lalu. Aku takut kejadian itu terulang lagi. Aku tak ingin mengecewakan ibu apalagi setahun sebelumnya ayah dijemput Sang Khalik. Aku tak ingin harapan ayah agar aku bisa menjadi seorang sarjana hanya menjadi sebuah harapan. Ujian kali ini adalah amanah besar bagiku. Amanah ayah, ibu dan sekolah.
Memang tak mengkhawatirkan jika dilihat dari nilai keseharianku. Aku termasuk di jajaran murid yang berprestasi. Peringkatku tak lepas dari lima besar kelas. Aku pun selalu unggul di pelajaran Bahasa Indonesia. Puisi dan cerpen-cerpenku selalu dimuat di majalah sekolah dan kadang di majalah remaja. Akupun termasuk anak yang baik di sekolah dan tak pernah membuat ulah yang aneh-aneh karena itu guru-guru banyak yang senang kepadaku.
“Bu, Adi takut.” Kataku pada ibu setelah makan malam seminggu sebelum ujian nasional.
Ibu menatapku dalam. Wajahnya mengisyaratkan bahwa ia ingin melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepadaku.
“Apa yang Adi takutkan?”
Aku menundukkan kepala kemudian menarik nafas panjang.
“Ujian ini bu, Adi takut tidak lulus lagi.”
“Kenapa mesti ditakuti, Di? Cukuplah Allah yang kita takuti.”
Aku diam. Kurasa ibu menunggu aku mengeluarkan kata-kata. Tapi, aku tak mampu berkata lagi. Kata-kata ibu tadi membuat aku tak tahu harus menyusun kata lagi di depannya.
“Adi, apapun yang terjadi nantinya. Itulah jalan Allah untukmu. Kau lulus ataupun tidak lulus, tak masalah untuk ibu. Allah saja melihat proses bukan hasil. Begitu pula ibu. Ibu tak akan mematokkan hasil kau harus seperti ini atau seperti itu. Yang terpenting ibu tahu bagaimana prosesmu untuk mencapai hasil itu. Adi sudah belajar dengan giat kan?”
Aku tersenyum mendengar jawaban ibu. Pertanyaannya pun kurasa tak perlu kujawab sebab ibu sudah tahu bagaimana aku belajar selama ini. Menjadi anak tunggal dan ayah yang telah tiada membuat ruang gerakku begitu mudah untuk diketahui ibu. Ah, sungguh aku bersyukur dilahirkan oleh seorang ibu yang tangguh ini.
Banyak yang ibu ajarkan padaku. Pelajaran yang tak aku dapati di sekolah. Pelajaran tentang ikhlas dan pelajaran tentang tegar yang terutama. Ah, ibu. Tak penah aku melihatnya bermuram durja apalagi di hadapanku.
****
Ujian nasional memang menjadi monster bagi pelajar. Lima puluh soal Bahasa Indonesia, pelajaran yang paling aku senangi telah membuat perutku mual. Matematika yang membuat kepalaku berat. Ah, seandainya ujian nasional ini ditiadakan. Aku tak tahu entah bagaimana aku mengungkapkan kebahagiaanku.
Lewat sudah ujian nasional. Menunggu hasilnya membuatku kembali was-was. Akupun tak ingin mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi sebelum aku tahu hasil ujianku. Biarlah aku hanya ikut seleksi nasionalnya saja. Kurasa, akupun belum siap jika harus kuliah jauh. Tak sanggup aku meninggalkan ibu sendiri. Mungkin aku akan kuliah di tanah kelahiranku ini saja. Tak perlu jauh-jauh.
Sehari sebelum pengumuman, rasa was-was itu terus menghantuiku. Bayangan pengumuman waktu aku SMP dulu terus menghantuiku. Aku takut, aku takut kejadian itu terulang. Aku merasa kembali ke titik yang sama.
“Tenanglah nak. Apapun hasilnya besok. Itulah yang terbaik untukmu. Carilah pesan Allah dari hasil yang akan kau peroleh besok.”
Aku menatap wajah ibu. Dia selalu tahu akan resahku. Aku peluk wanita itu. Tangannya lembut membelaiku. Ah, aku serasa menjadi anak kecil bila di dekatnya. Suatu hari nanti aku yakin, aku akan merindukan belaian lembutnya.
Ketika satu per satu amplop yang berisi surat kelulusan dibagikan, tubuhku gemetar. Kulihat ibu yang masih memegang amplop itu dan belum membukanya. Aku khawatir. Aku takut. Tapi, aku ingin tahu hasilnya.
“Nak, bukalah.”
Gemetar tanganku mengambil amplop dari tangan ibu. Aku menatap wajah ibu. Dia mengangguk. Ah, aku takut.
Surat itu masih di tanganku. Kurasakan ibu mendekapku. Kata lulus dicoret dan artinya aku tak lulus ujian ini. Tuhan, aku merasa benar-benar kembali ke titik yang sama seperti tiga tahun yang lalu. Apa salahku? Sehingga aku harus merasakan hal ini lagi.
“Tenanglah nak. Tenangkanlah dirimu.” Bisik ibu. Suaranya serak. Mungkin ia menangis. “Kau tak gagal, ini hanya jalan Allah untuk mengarahkan menuju jalan suksesmu.”
Aku masih terisak dalam dekapan ibu. Kedua kalinya aku membuat ibu kecewa. Tapi, ibu terlalu tegar menghadapi semua ini.
Teman-temanku mulai mendekatiku. Satu per satu mereka menguatkanku. Kulihat ibu menjauh. Mungkin ia ingin memberi ruang untuk teman-temanku. Aku hanya diam. Tak ada yang mampu aku ucapkan. Lidahku benar-benar kelu. Apakah ini benar-benar jalanku?
****
“Nak, ibu bangga padamu.”
Aku tak menatap wajah ibu. Aku tahu dia sedang berusaha menguatkanku. Tapi aku masih kuat. Aku hanya merasa kecewa ketika salah seorang temanku mengatakan bahwa aku tak belajar dari pengalaman yang sama dan aku juga kecewa ketika mereka menyatakan rasa iba mereka mengingat ini adalah kali keduanya aku gagal ujian nasional.
“Nak, suatu hari nanti, apa yang terjadi hari ini akan menjadi suatu yang sangat berharga dalam perjalanan hidupmu. Hari ini akan menjadi cerita yang hanya kau yang memilikinya. Tak kan ada orang yang punya cerita seperti ini.”
Aku masih diam. Sejenak hening.
“Tapi aku gagal lagi bu,”
“Tidak. Di mata ibu kau tak pernah gagal. Ini hanya cara Allah untuk menunjukkanmu jalan yang lain menuju suksesmu nanti.”
“Tapi kapan bu? Mengapa selalu jalan seperti ini yang harus aku lewati? Aku malu. Aku benci dengan sikap orang-orang padaku.”
“Istighfar, nak.”
Ibu mengelus punggungku. Aku tak menoleh padanya, sama sekali.
“Adi, kita tak pernah tahu apa rencana-Nya selanjutnya. Kita hanya menjalani jalan yang telah ia tetapkan. Pun dalam jalan itu harus ada duri atau kerikil. Itu harus kita lewati. Memang tak selamanya jalan kita mulus. Ingat kembali betapa Allah memudahkan jalanmu selama ini. Dia hanya membuatmu tersandung di titik ini. Yakinlah, setelah titik ini akan ada huruf-huruf baru yang akan dirangkai menjadi kata-kata yang lebih indah. Kaulah yang akan merangkainya.”
Aku terdiam dalam dekap ibu. Kehangatan yang selalu kurasakan saat aku benar-benar terjatuh. Kasih yang menyamarkan noda-noda hitam kebencianku kepada keadaan ini.
****
Tahun berlalu. Sekarang akupun mengerti setiap apa yang ibu ajarkan dulu tentang tegar dan sabar akan kita tuai. Apa yang ibu ajarkan tentang pasrah dan ikhlas telah membentuk aku menjadi karakter yang berbeda dengan orang lain. Aku tak lagi menangis ketika aku tersandung karena aku yakin ini hanya ujian dari-Nya. Aku tak lagi membenci ketika orang-orang mengulang kembali ceritaku sebab akupun dsering mengulangnya dan aku mengerti inilah pelajaran yang berharga itu. Pelajaran untuk semua orang. Inilah kisahku yang menginspirasi sehingga lahirlah karya-karyaku.
Ya, sekarang aku berkarya. Berkarya untuk menceritakan kembali jalanku dan berkarya karena dendamku pada hidup. Aku melawannya dengan karya dan sekarang aku menang. Karya-karyaku telah menjadi pengisi rak-rak di toko buku.
Ibu benar. Ternyata semua yang telah kulewati adalah jalan-Nya untuk mengantarkanku pada titik dimana aku bisa tersenyum dan meneteskan airmata haru. Tapi, aku sadar, belum sepenuhnya aku menang, belum sepenuhnya aku sukses. Ini adalah titik yang lain dimana aku hanya berhenti sejenak dan setelah ini akan ada huruf-huruf lain lagi yang akan dirangkai menjadi kata-kata baru.
Malam ini. Di istana kepresidenan. Satu penghargaan aku dapati dari pemimpin negeri ini. Penghargaan atas karya-karyaku.
Ibu, lihatlah anakmu telah sampai pada titik yang engkau katakan dulu. Pada titik yang tak pernah kuduga akan terjadi. Ternyata rencana Allah memang indah pada masanya. Ah, ibu seandainya ibu bisa melihatku disini, tentunya akan menjadi hal yang paling membahagiakan dalam hidupku. Tapi, rencana Allah berkehendak lain. Engkau tak melihat anakmu ini berada pada titik yang kau ceritakan dulu.
Kawan, ibuku telah tiada. Ia meninggal dunia dua tahun yang lalu karena tumor ganas menyerangnya. Ibu terlalu tegar menghadapi hidup ini sehingga ia ibarat lautan inspirasiku yang tak pernah surut. Ah, ibu aku akan terus bercerita dari sudut pandangmu yang berbeda dengan orang-orang meskipun sudut pandang merekapun benar adanya. Aku lebih suka caramu, ibu. Cara yang melunturkan semua kebencianku pada masa lalu dan cara yang membuka mataku tentang adanya suatu yang indah setelah titik.
Indralaya, 25 Mei 2010
*Juara II LMCP LDK Nadwah Unsri 2010
Aku benci ketika harus mengingat bahwa aku gagal untuk kedua kalinya. Gagal ujian nasional di SMP dan harus mengikuti program paket B sehingga ijazahku bukanlah ijazah SMP tempat aku sekolah. Akan tetapi, ijazah paket B. Pedih rasanya. Tiga tahun menuntut ilmu tapi harus rela tak mendapatkan ijazah yang selama ini orang-orang kejar, termasuk aku.
Tiga tahun kemudian, masih kegagalan yang sama. Heh, aku tidak lulus ujian SMA. Tidak lulus ujian SMA! Aku tak tahu, apa salahku sehingga aku gagal pada titik yang sama atau aku yang terlalu bodoh?
Aku benci keadaanku. Aku benci semua ini. Apakah jalanku diciptakan terlalu rumit? Ah, orang-orang menjadi iba padaku padahal aku tak suka itu. Mereka juga memandangku gagal.
Tidak. Aku tidak akan bercerita dari sudut pandang mereka yang menganggap gagal. Ya, meskipun aku tahu aku memang gagal. Tapi aku akan bercerita dari sudut pandang ibuku. Sebuah pandangan yang membuat kebencian pada jalanku hidupku perlahan-lahan hilang. Sudut pandang yang berbeda dengan orang-orang yang ada di sekitarku. Sudut pandang yang tak pernah menyudutkanku. Mungkin inilah yang dinamakan kasih ibu. Kasih yang diberikan untuk menghilangkan semua kebencian dalam diri anaknya.
Aku masih ingat, senja itu setelah pengumuman kelulusan SMP. Aku mengurung diri di kamar kemudian kabur lewat jendela. Aku berlari di antara pematang sawah dan berhenti di dekat sungai kecil di pinggiran kampungku. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku tak peduli jika ada orang yang melihatku dan mengatakan aku adalah anak laki-laki yang paling cengeng di dunia. Terserah mereka. Toh, mereka tak merasakan apa yang aku rasa.
Dalam tangisku, aku merasakan sentuhan lembut dibahuku.
“Nak, lihatlah air itu. Ia tak berhenti mengalir meskipun ada akar-akar kayu dan bebatuan. Ia tak berhenti meski banyak rintangan di depannya, meski kadang warnanya pun harus keruh karena ulah atau tercemar karena ulah manusia. Ia tak kan berhenti sampai ia menemukan muaranya.”
Aku menatap ke depan. Lurus dan kosong. Tangisku meninggalkan isak yang membuat dadaku sesak.
“Nak, jalan ini masih panjang. Tak kan berhenti pada titik ini. Biarlah titik ini berakhir disini. Inilah hasil jalanmu. Jangan pernah menyesalinya. Bukan keinginanmu atau keinginan ibu. Tapi inilah jalanmu. Ikutilah jalan ini dan bersabarlah di jalan ini.”
“Adi telah mengecewakan ayah dan ibu. Bukankah Adi pernah mengatakan bahwa Adi akan membuat ayah dan ibu bangga dan Adilah pemenang itu. Tapi, kenyataannya. Adi telah membuat ibu kecewa. Adi kalah bu.”
“Kata siapa Adi telah membuat ayah dan ibu kecewa? Kata siapa Adi sudah kalah?”
Aku menatap wajah ibu. Matanya memancarkan kasih yang tulus. Bibirnya menyungging senyum.
“Adi, ayah dan ibu tak pernah kecewa dan tak ada yang mengatakan Adi kalah. Adi belum kalah, pertarungan Adi belum selesai. Ini awal baru untuk Adi. Ibu malah bangga jika Adi masih mau melangkah dan ibu kecewa jika Adi berhenti sampai disini.”
Air mataku masih mengalir. Kurasakan tangan lembut ibu menghapusnya. Serta merta kupeluk tubuh wanita itu. Terimakasih ya Allah, Engkau menganugerahiku ibu yang luar biasa seperti ini, bisik hatiku.
****
Ibu selalu mengajarkanku tentang sabar. Begitu juga ketika aku tak lulus ujian SMP dan tak bisa melanjutkan ke sekolah negeri. Allah punya jalan yang lebih indah untukku, begitu kata ibu. Aku selalu ingat kata-katanya. Aku pun yakin dengan hal itu.
Tiga tahun berlalu, tak terasa ujian nasional akan dilaksanakan. Aku mulai was-was. Mungkin masih ada trauma masa lalu. Aku takut kejadian itu terulang lagi. Aku tak ingin mengecewakan ibu apalagi setahun sebelumnya ayah dijemput Sang Khalik. Aku tak ingin harapan ayah agar aku bisa menjadi seorang sarjana hanya menjadi sebuah harapan. Ujian kali ini adalah amanah besar bagiku. Amanah ayah, ibu dan sekolah.
Memang tak mengkhawatirkan jika dilihat dari nilai keseharianku. Aku termasuk di jajaran murid yang berprestasi. Peringkatku tak lepas dari lima besar kelas. Aku pun selalu unggul di pelajaran Bahasa Indonesia. Puisi dan cerpen-cerpenku selalu dimuat di majalah sekolah dan kadang di majalah remaja. Akupun termasuk anak yang baik di sekolah dan tak pernah membuat ulah yang aneh-aneh karena itu guru-guru banyak yang senang kepadaku.
“Bu, Adi takut.” Kataku pada ibu setelah makan malam seminggu sebelum ujian nasional.
Ibu menatapku dalam. Wajahnya mengisyaratkan bahwa ia ingin melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepadaku.
“Apa yang Adi takutkan?”
Aku menundukkan kepala kemudian menarik nafas panjang.
“Ujian ini bu, Adi takut tidak lulus lagi.”
“Kenapa mesti ditakuti, Di? Cukuplah Allah yang kita takuti.”
Aku diam. Kurasa ibu menunggu aku mengeluarkan kata-kata. Tapi, aku tak mampu berkata lagi. Kata-kata ibu tadi membuat aku tak tahu harus menyusun kata lagi di depannya.
“Adi, apapun yang terjadi nantinya. Itulah jalan Allah untukmu. Kau lulus ataupun tidak lulus, tak masalah untuk ibu. Allah saja melihat proses bukan hasil. Begitu pula ibu. Ibu tak akan mematokkan hasil kau harus seperti ini atau seperti itu. Yang terpenting ibu tahu bagaimana prosesmu untuk mencapai hasil itu. Adi sudah belajar dengan giat kan?”
Aku tersenyum mendengar jawaban ibu. Pertanyaannya pun kurasa tak perlu kujawab sebab ibu sudah tahu bagaimana aku belajar selama ini. Menjadi anak tunggal dan ayah yang telah tiada membuat ruang gerakku begitu mudah untuk diketahui ibu. Ah, sungguh aku bersyukur dilahirkan oleh seorang ibu yang tangguh ini.
Banyak yang ibu ajarkan padaku. Pelajaran yang tak aku dapati di sekolah. Pelajaran tentang ikhlas dan pelajaran tentang tegar yang terutama. Ah, ibu. Tak penah aku melihatnya bermuram durja apalagi di hadapanku.
****
Ujian nasional memang menjadi monster bagi pelajar. Lima puluh soal Bahasa Indonesia, pelajaran yang paling aku senangi telah membuat perutku mual. Matematika yang membuat kepalaku berat. Ah, seandainya ujian nasional ini ditiadakan. Aku tak tahu entah bagaimana aku mengungkapkan kebahagiaanku.
Lewat sudah ujian nasional. Menunggu hasilnya membuatku kembali was-was. Akupun tak ingin mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi sebelum aku tahu hasil ujianku. Biarlah aku hanya ikut seleksi nasionalnya saja. Kurasa, akupun belum siap jika harus kuliah jauh. Tak sanggup aku meninggalkan ibu sendiri. Mungkin aku akan kuliah di tanah kelahiranku ini saja. Tak perlu jauh-jauh.
Sehari sebelum pengumuman, rasa was-was itu terus menghantuiku. Bayangan pengumuman waktu aku SMP dulu terus menghantuiku. Aku takut, aku takut kejadian itu terulang. Aku merasa kembali ke titik yang sama.
“Tenanglah nak. Apapun hasilnya besok. Itulah yang terbaik untukmu. Carilah pesan Allah dari hasil yang akan kau peroleh besok.”
Aku menatap wajah ibu. Dia selalu tahu akan resahku. Aku peluk wanita itu. Tangannya lembut membelaiku. Ah, aku serasa menjadi anak kecil bila di dekatnya. Suatu hari nanti aku yakin, aku akan merindukan belaian lembutnya.
Ketika satu per satu amplop yang berisi surat kelulusan dibagikan, tubuhku gemetar. Kulihat ibu yang masih memegang amplop itu dan belum membukanya. Aku khawatir. Aku takut. Tapi, aku ingin tahu hasilnya.
“Nak, bukalah.”
Gemetar tanganku mengambil amplop dari tangan ibu. Aku menatap wajah ibu. Dia mengangguk. Ah, aku takut.
Surat itu masih di tanganku. Kurasakan ibu mendekapku. Kata lulus dicoret dan artinya aku tak lulus ujian ini. Tuhan, aku merasa benar-benar kembali ke titik yang sama seperti tiga tahun yang lalu. Apa salahku? Sehingga aku harus merasakan hal ini lagi.
“Tenanglah nak. Tenangkanlah dirimu.” Bisik ibu. Suaranya serak. Mungkin ia menangis. “Kau tak gagal, ini hanya jalan Allah untuk mengarahkan menuju jalan suksesmu.”
Aku masih terisak dalam dekapan ibu. Kedua kalinya aku membuat ibu kecewa. Tapi, ibu terlalu tegar menghadapi semua ini.
Teman-temanku mulai mendekatiku. Satu per satu mereka menguatkanku. Kulihat ibu menjauh. Mungkin ia ingin memberi ruang untuk teman-temanku. Aku hanya diam. Tak ada yang mampu aku ucapkan. Lidahku benar-benar kelu. Apakah ini benar-benar jalanku?
****
“Nak, ibu bangga padamu.”
Aku tak menatap wajah ibu. Aku tahu dia sedang berusaha menguatkanku. Tapi aku masih kuat. Aku hanya merasa kecewa ketika salah seorang temanku mengatakan bahwa aku tak belajar dari pengalaman yang sama dan aku juga kecewa ketika mereka menyatakan rasa iba mereka mengingat ini adalah kali keduanya aku gagal ujian nasional.
“Nak, suatu hari nanti, apa yang terjadi hari ini akan menjadi suatu yang sangat berharga dalam perjalanan hidupmu. Hari ini akan menjadi cerita yang hanya kau yang memilikinya. Tak kan ada orang yang punya cerita seperti ini.”
Aku masih diam. Sejenak hening.
“Tapi aku gagal lagi bu,”
“Tidak. Di mata ibu kau tak pernah gagal. Ini hanya cara Allah untuk menunjukkanmu jalan yang lain menuju suksesmu nanti.”
“Tapi kapan bu? Mengapa selalu jalan seperti ini yang harus aku lewati? Aku malu. Aku benci dengan sikap orang-orang padaku.”
“Istighfar, nak.”
Ibu mengelus punggungku. Aku tak menoleh padanya, sama sekali.
“Adi, kita tak pernah tahu apa rencana-Nya selanjutnya. Kita hanya menjalani jalan yang telah ia tetapkan. Pun dalam jalan itu harus ada duri atau kerikil. Itu harus kita lewati. Memang tak selamanya jalan kita mulus. Ingat kembali betapa Allah memudahkan jalanmu selama ini. Dia hanya membuatmu tersandung di titik ini. Yakinlah, setelah titik ini akan ada huruf-huruf baru yang akan dirangkai menjadi kata-kata yang lebih indah. Kaulah yang akan merangkainya.”
Aku terdiam dalam dekap ibu. Kehangatan yang selalu kurasakan saat aku benar-benar terjatuh. Kasih yang menyamarkan noda-noda hitam kebencianku kepada keadaan ini.
****
Tahun berlalu. Sekarang akupun mengerti setiap apa yang ibu ajarkan dulu tentang tegar dan sabar akan kita tuai. Apa yang ibu ajarkan tentang pasrah dan ikhlas telah membentuk aku menjadi karakter yang berbeda dengan orang lain. Aku tak lagi menangis ketika aku tersandung karena aku yakin ini hanya ujian dari-Nya. Aku tak lagi membenci ketika orang-orang mengulang kembali ceritaku sebab akupun dsering mengulangnya dan aku mengerti inilah pelajaran yang berharga itu. Pelajaran untuk semua orang. Inilah kisahku yang menginspirasi sehingga lahirlah karya-karyaku.
Ya, sekarang aku berkarya. Berkarya untuk menceritakan kembali jalanku dan berkarya karena dendamku pada hidup. Aku melawannya dengan karya dan sekarang aku menang. Karya-karyaku telah menjadi pengisi rak-rak di toko buku.
Ibu benar. Ternyata semua yang telah kulewati adalah jalan-Nya untuk mengantarkanku pada titik dimana aku bisa tersenyum dan meneteskan airmata haru. Tapi, aku sadar, belum sepenuhnya aku menang, belum sepenuhnya aku sukses. Ini adalah titik yang lain dimana aku hanya berhenti sejenak dan setelah ini akan ada huruf-huruf lain lagi yang akan dirangkai menjadi kata-kata baru.
Malam ini. Di istana kepresidenan. Satu penghargaan aku dapati dari pemimpin negeri ini. Penghargaan atas karya-karyaku.
Ibu, lihatlah anakmu telah sampai pada titik yang engkau katakan dulu. Pada titik yang tak pernah kuduga akan terjadi. Ternyata rencana Allah memang indah pada masanya. Ah, ibu seandainya ibu bisa melihatku disini, tentunya akan menjadi hal yang paling membahagiakan dalam hidupku. Tapi, rencana Allah berkehendak lain. Engkau tak melihat anakmu ini berada pada titik yang kau ceritakan dulu.
Kawan, ibuku telah tiada. Ia meninggal dunia dua tahun yang lalu karena tumor ganas menyerangnya. Ibu terlalu tegar menghadapi hidup ini sehingga ia ibarat lautan inspirasiku yang tak pernah surut. Ah, ibu aku akan terus bercerita dari sudut pandangmu yang berbeda dengan orang-orang meskipun sudut pandang merekapun benar adanya. Aku lebih suka caramu, ibu. Cara yang melunturkan semua kebencianku pada masa lalu dan cara yang membuka mataku tentang adanya suatu yang indah setelah titik.
Indralaya, 25 Mei 2010
*Juara II LMCP LDK Nadwah Unsri 2010
Langganan:
Postingan (Atom)

