Ketika kumenatap pada cermin ini, tak ada yang kulihat selain kejujuran. Cermin ini terlalu jujur untuk menghadirkan sosok diriku yang penuh dengan dusta ini. Dustaku pada diriku sendiri, bahkan tak pernah jujur kepada diri sendiri.
Di depan cermin ini aku benar-benar melihat diriku dengan segala kekurangan dan kelebihan yang telah Allah karuniakan. Maha Suci Allah yang telah memberikanku sepasang mata, tak buta dan tanpa cacat, minus ataupun silinder. mata inilah yang mampu melihat dunia, sungguh tak bersyukur aku yang selama ini hanya mampu melihat keindahan dunia saja tanpa melihat tanda-tanda kebesaran Allah di balik semua itu.
Maha Besar Allah yang telah menganugerahiku sepasang alis yang mampu menahan keringat dari dahiku ketika aku gerah. Dianugerahi pula kepadaku bulu mata agar tak masuk debu ke dalam mataku. Kumelihat pada sebuah hidung di wajahku, inilah kuasa-Nya yang menciptakan hidung tak sekedar untuk mencium namun untuk membantu sistem pernapasan manusia dan mempercantik wajah. Kumelihat lagi kepada dahi, pipi, bibir dan dagu. Inilah kebesaran Allah yang menciptakannya tanpa kekurangan. Akhirnya, aku melihat pada mulutku. Oh Tuhan, di dalam mulut ini ada lidah yang tak bertulang dan inilah yang paling sering menyakiti. Sungguh tak ada yang sia-sia semua penciptaan-Nya, apapun bentuknya.
Di depan cermin ini aku masih terpaku menatap diriku sendiri. Jika kata orang wajahku tak cantik, biarlah aku tak peduli. Di mataku tak ada yang jelek karena Allah menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Setiap wanita cantik, setiap laki-laki tampan. Setiap orang punya kelebihan tersendiri dan kelebihan itu akan menjadi kecantikan dan ketampanan tersendiri baginya. Tak ada lagi yang dapat kukatakan selain syukurku kepada-Nya atas segala anugerah yang Dia berikan kepadaku.
Indralaya, 21 Febuari 2010
cahaya hati insya Allah akan menjadi kumpulan tulisan saya, baik berupa puisi,cerpen,artikel atau catatan-catatan ringan saya.
Laman
Nurul's Profil
Senin, 29 Maret 2010
Rabu, 10 Maret 2010
Senandung Malam
Hei, dengarlah pada sang malam!
Ia bersenandung bersama rintik gerimis dan desah angin yang menampar daun-daun.
Malam telah menyampaikan senandung sepi sejak pudar lembayung senja.
Langit telah memberi tanda tak kan menampakkan bintang-bintang sejak matahari beranjak ke barat.
Hei, malam tak berhenti bersenandung sepi,
dengarlah pada jarum jam, ia mengabarkan malam terus berlari dan semakin sepi.
Indralaya, 10 Maret 2010
Ia bersenandung bersama rintik gerimis dan desah angin yang menampar daun-daun.
Malam telah menyampaikan senandung sepi sejak pudar lembayung senja.
Langit telah memberi tanda tak kan menampakkan bintang-bintang sejak matahari beranjak ke barat.
Hei, malam tak berhenti bersenandung sepi,
dengarlah pada jarum jam, ia mengabarkan malam terus berlari dan semakin sepi.
Indralaya, 10 Maret 2010
Langganan:
Postingan (Atom)
