Aubade di waktu senja
Masa yang terlewat tapi kan datang lagi
Tak ingkar janji ia
sebab ia patuh penuh seluruh kepada titah Tuhannya
cahaya hati insya Allah akan menjadi kumpulan tulisan saya, baik berupa puisi,cerpen,artikel atau catatan-catatan ringan saya.
Laman
Nurul's Profil
Selasa, 28 Desember 2010
Kamis, 23 Desember 2010
Kita Bukan Pematung
waaah, akku juga manusia biasa, bukannya malaikat yang ga khilaf apalagi salahnya. Kl mau menuntut kesempurnaan jangan ke aku ya, ada yang Maha Sempurna.
Anda pun bukan pematung dan saya bukan objeknya yang bisa anda bentuk sesuka hati, mau jadipatung orang, ayam, bebek, atau gajah. Anda ga bisa mengatakan: "kamu harus seperti ini, atau seperti itu, kamu kan udah ikut ini, ikut itu, atau kamu kan udah disekolahin tinggi2."
Baik di mta kita, belum tentu di mata orang lain atau m\bahkan di mata Pemilik Nyawa kita baik. Mungki hrus belajar untuk tidak memandang suatu hal hanya dari satu sisi sja. begitu banyak sisi2 lain yang harus kita lihat.
Satu hal, mari kita berintropeksi.
Tetap berpikir positif menghadapi semua yang akan kta hdpi.
Semangat!
Anda pun bukan pematung dan saya bukan objeknya yang bisa anda bentuk sesuka hati, mau jadipatung orang, ayam, bebek, atau gajah. Anda ga bisa mengatakan: "kamu harus seperti ini, atau seperti itu, kamu kan udah ikut ini, ikut itu, atau kamu kan udah disekolahin tinggi2."
Baik di mta kita, belum tentu di mata orang lain atau m\bahkan di mata Pemilik Nyawa kita baik. Mungki hrus belajar untuk tidak memandang suatu hal hanya dari satu sisi sja. begitu banyak sisi2 lain yang harus kita lihat.
Satu hal, mari kita berintropeksi.
Tetap berpikir positif menghadapi semua yang akan kta hdpi.
Semangat!
Senin, 20 Desember 2010
saat Berjalan Bersama
"Semakin lama kita berjalan bersama, semakin kita saling mengenal, dan semakin kita tahu kekurangan n kelebihan masing2. Tapi, apakah kita semakin saling mengerti?
Sebuah status yanng pernah aku buat di dinding facebook-ku. Benarkah kita semakin saling mengerti? mungkin kita perlu perenungan untuk itu. Semakin jauh kita melangkah semakin kita mengetahui kekurangan dan kelebihan sahabat kita. Satu hal yang mungkin tidak kita sadari. Kita malah bukan saling melengkapi dengan tahunya kelebihan dan kekurangan itu. tapi, terkadang kita malah menertawainya. Sebegitu picikkah kita? Padahal kita pun punya kekurangan.
Salahkah saudara kita yang punya kekurangan? Bukankah itu fitrah manusia?
Mungkin kita sama2 perlu merenung untuk itu. jangan sampai dalam perjalanan ini genggaman tangan kita terlepas dan kita saling menjauh. Jangan sampai barisan yang telah rapat ini menjadi renggang dan kasih itu perlahan pudar.
"sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati ni telah berpadu, berhimpun dalam naungan cinta-Mu. Berpadu dalam dalam ketaatan, bersatu dalam perjuangan menegakkan syariat dalam kehidupan." (Doa Rabithah)
Sebuah status yanng pernah aku buat di dinding facebook-ku. Benarkah kita semakin saling mengerti? mungkin kita perlu perenungan untuk itu. Semakin jauh kita melangkah semakin kita mengetahui kekurangan dan kelebihan sahabat kita. Satu hal yang mungkin tidak kita sadari. Kita malah bukan saling melengkapi dengan tahunya kelebihan dan kekurangan itu. tapi, terkadang kita malah menertawainya. Sebegitu picikkah kita? Padahal kita pun punya kekurangan.
Salahkah saudara kita yang punya kekurangan? Bukankah itu fitrah manusia?
Mungkin kita sama2 perlu merenung untuk itu. jangan sampai dalam perjalanan ini genggaman tangan kita terlepas dan kita saling menjauh. Jangan sampai barisan yang telah rapat ini menjadi renggang dan kasih itu perlahan pudar.
"sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati ni telah berpadu, berhimpun dalam naungan cinta-Mu. Berpadu dalam dalam ketaatan, bersatu dalam perjuangan menegakkan syariat dalam kehidupan." (Doa Rabithah)
Minggu, 19 Desember 2010
Catatan Akhir Tahun
1991
Suci kala itu tanpa noda. Akulah kertas putih itu. Akulah kebahagiaan itu. Sebentar saja, sayang.
Hari berganti, bulan terlewati, dan tahun berganti. Tak ada lagi kertas putih itu, telah penuh coretan. Akulah noda itu
2010
Pada penghujung ini. Aku bertanya pada diriku sendiri dan tanyakan pula
pada dirimu, kawan. Apa yang telah kita berikan dan apa yang telah kita sumbangkan sepanjang hidup ini?
Sudahkah kita bermanfaat untuk orang lain??
Begitu banyak kekhilafan yang berulang kali kita lakukan tanpa mengambil hikmah darinya. Begitu banyak kesalahan yang sengaja kita lakukan tanpa memikirkan bahwa hidup ini akan berakhir juga dan dunia ini akan hancur jika telah tiba masanya.
"dan nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
Suci kala itu tanpa noda. Akulah kertas putih itu. Akulah kebahagiaan itu. Sebentar saja, sayang.
Hari berganti, bulan terlewati, dan tahun berganti. Tak ada lagi kertas putih itu, telah penuh coretan. Akulah noda itu
2010
Pada penghujung ini. Aku bertanya pada diriku sendiri dan tanyakan pula
pada dirimu, kawan. Apa yang telah kita berikan dan apa yang telah kita sumbangkan sepanjang hidup ini?
Sudahkah kita bermanfaat untuk orang lain??
Begitu banyak kekhilafan yang berulang kali kita lakukan tanpa mengambil hikmah darinya. Begitu banyak kesalahan yang sengaja kita lakukan tanpa memikirkan bahwa hidup ini akan berakhir juga dan dunia ini akan hancur jika telah tiba masanya.
"dan nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
Kamis, 16 Desember 2010
Pagi
Pagi,
aku kembali ketika langit menangis
mentari tak menampakan diri dari ufuk timur
namun, biasnya menerangi setiap celah bumiku
pagi,
apa kabarmu?
aku telah kembali
aku tak akan pergi lagi
aku akan tetap disini bersama semangatmu, pagi!
pagi,
Aku tak ingin mengkhianati titah-Nya
seperti kau yang tak pernah mengkhianati titah-Nya
untuk mengakhiri pekat malam
pagi,
aku tak kan pergi
aku telah menyatu dengan semangatmu, pagi!
aku kembali ketika langit menangis
mentari tak menampakan diri dari ufuk timur
namun, biasnya menerangi setiap celah bumiku
pagi,
apa kabarmu?
aku telah kembali
aku tak akan pergi lagi
aku akan tetap disini bersama semangatmu, pagi!
pagi,
Aku tak ingin mengkhianati titah-Nya
seperti kau yang tak pernah mengkhianati titah-Nya
untuk mengakhiri pekat malam
pagi,
aku tak kan pergi
aku telah menyatu dengan semangatmu, pagi!
Minggu, 05 Desember 2010
Jalan Telah Terbentang
Telah sampai masanya
Lama berganti baru
Tapi, tetap dalam satu genggaman tangan dan satu cinta
Jalan telah terbentang
Kita akan menapakinya
Ini masa kita!
Oh, ada duri, ada kerikil, dan ada jurang – jurang yang siap menjadi perangkap
Hari ini ada duri
Aku terpijak, kau terpijak, dan diapun terpijak
Kita terpijak duri
Sakit!
Hati – hati sayang!
Aku khilaf, mungkin kau dan dia juga
Mari kita saling menggenggam tangan lagi
Kita berjalan bersama lagi
Jika aku hampir terpijak duri ataupun kerikil
Cepet ingatkan aku!
Mari kita eratkan genggaman ini
Jalan telah terbentang
Ini yang akan kita tapaki!
Indralaya, 6 Desember 2010
Untuk Ika, Ira, Amha, dan Fiqi
Lama berganti baru
Tapi, tetap dalam satu genggaman tangan dan satu cinta
Jalan telah terbentang
Kita akan menapakinya
Ini masa kita!
Oh, ada duri, ada kerikil, dan ada jurang – jurang yang siap menjadi perangkap
Hari ini ada duri
Aku terpijak, kau terpijak, dan diapun terpijak
Kita terpijak duri
Sakit!
Hati – hati sayang!
Aku khilaf, mungkin kau dan dia juga
Mari kita saling menggenggam tangan lagi
Kita berjalan bersama lagi
Jika aku hampir terpijak duri ataupun kerikil
Cepet ingatkan aku!
Mari kita eratkan genggaman ini
Jalan telah terbentang
Ini yang akan kita tapaki!
Indralaya, 6 Desember 2010
Untuk Ika, Ira, Amha, dan Fiqi
Syahidmu
Tanah yang memerah
Batu yang menjelma peluru
Luka yang mengikis canda
Derita yang menelan tawa
Perang yang menyita damai
Saksi bisu!
Bayi lahir kemudian syahid
Anak – anak menggenggam batu,
Melempar pada kaum yang hatinya telah mati
Batu jadi peluru, mesiu
Yang menghancurkan keangkuhan!
Syahid!
Tanahmu memerah
Darah mengalir,
Tanahmu menangis
Tapi, bahagia menjadi saksi syahidmu
Angin yang berhembus, kering!
Menngantarkan syahidmu pada kehariban-Nya
Aroma gurun.
Mewangi! Inilah syahidmu
Alam bersaksi atasnya!
Indralaya, 6 Desember 2010
Untuk Al-Aqsa dan mujahid-mujahidah Al-Aqsa
Batu yang menjelma peluru
Luka yang mengikis canda
Derita yang menelan tawa
Perang yang menyita damai
Saksi bisu!
Bayi lahir kemudian syahid
Anak – anak menggenggam batu,
Melempar pada kaum yang hatinya telah mati
Batu jadi peluru, mesiu
Yang menghancurkan keangkuhan!
Syahid!
Tanahmu memerah
Darah mengalir,
Tanahmu menangis
Tapi, bahagia menjadi saksi syahidmu
Angin yang berhembus, kering!
Menngantarkan syahidmu pada kehariban-Nya
Aroma gurun.
Mewangi! Inilah syahidmu
Alam bersaksi atasnya!
Indralaya, 6 Desember 2010
Untuk Al-Aqsa dan mujahid-mujahidah Al-Aqsa
Langganan:
Postingan (Atom)
