"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik." (Q.S. Ali Imron: 110)
1. PENDAHULUAN
Dakwah adalah menyeru manusia ke jalan Allah dengan hikmah dan pelajaran yang baik sehingga mereka yang didakwahi itu mengingkari segala bentuk pengabdian kepada selain Allah dan mengimani Allah dan mereka keluar dari kegelapan sistem hidup jahiliyyah menuju kepada terangnya jalan Islam. Dakwah dapat diibaratkan seperti air, ia akan menyesuaikan bentuk dengan wadah yang menampungnya tanpa harus mengubah zat aslinya. Dakwah Kampus merupakan salah satu bagian dari dakwah secara umum. Dakwah kampus mengkhususnya dirinya untuk bergerak dalam sebuah miniatur masyarakat kecil yang bernama masyarakat kampus. Dakwah Kampus adalah dakwah ammah harokatudz dzahiroh dalam lingkup perguruan tinggi.
Mendakwahi masyarakat kampus sebagai masyarakat intelektual tentu berbeda ketika berdakwah terhadap masyarakat awam. Kendati esensi yang disampaikan adalah sama, namun ada perbedaan yang signifikan dalam hal cara dan pendekatan yang dilakukan. Semua ini mengingat adanya latar belakang, situasi-kondisi, watak dan karakter yang berbeda pada setiap strata masyarakat, bahkan lebih spesifik lagi pada setiap individu manusia. Dakwah yang sifatnya terbuka, berorientasi kepada rekrutmen dakwah di kalangan civitas akademika secara umum, dan aktivitasnya dapat dirasakan oleh civitas akademika. Civitas akademika yang dimaksud di sini adalah para mahasiswa dan dosen perguruan tinggi. Civitas akademika merupakan bagian dari masyarakat kampus yang hidup dengan peraturan, ada peraturan kampus (rektorat), peraturan ormawa, dan sebagainya. Sehingga untuk dapat mengejewantahkan dakwah ammah harokatudz dzahirah tersebut, maka prinsip 'legal', 'formal', dan 'wajar' dalam kacamata civitas akademika, menjadi hal yang perlu diperhatikan oleh Dakwah Kampus. Salah satu derivasi dari hal ini, maka biasanya sebuah lembaga dakwah kampus perlu membuat AD/ART sebagai bagian dari bentuk legalisasi organisasi dakwah kampus di sebuah perguruan tinggi.
2. PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Dakwah Ammah
Dakwah ‘ammah adalah dakwah yang ditujukan kepada masyarakat umum (orang-orang yang berada sekitar kampus) tanpa adanya hubungan yang intensif antara da’i (orang yang berdakwah) dengan mad’u (orang yang didakwahi). Untuk menjalankan roda Dakwah Kampus, maka dibutuhkan personil-personil, yaitu Aktivis Dakwah Kampus (ADK). ADK adalah kader dakwah dan tarbiyah yang memiliki peran dalam Dakwah Kampus. Peran yang dilakukan bisa berupa sebagai pengurus lembaga dakwah kampus, murobbi kampus, dan sebagainya. Peran ADK ini bisa dijalankan oleh kader dakwah yang bertitel mahasiswa, atau dosen, atau kader dakwah lainnya yang bersinggungan dengan Dakwah Kampus. Mereka harus dapat bergerak bersama-sama dalam koridor strategi dakwah kampus yang bersangkutan.
Medan pergerakan dakwah kampus adalah area di mana dakwah kampus mengaktualisasikan diri. Medan Dakwah Kampus yaitu lingkungan internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap dakwah kampus, meliputi manusia-manusianya (para civitas akademika, pejabat dan pegawai kampus, alumni), sarana-sarananya (lembaga kemahasiswaan, institusi perguruan tinggi, institusi pemerintah terkait, institusi kerjasama antar perguruan tinggi), dan aturan main yang berlaku (peraturan perundangan terkait, kurikulum dan sistem administrasi perguruan tingggi), serta sarana dan prasarana kampus.
Berdakwah di kampus merupakan bagian integral dari dakwah secara umum. Ia tidak berbeda dengan dakwah kepada manusia lain, hanya obyek dakwahnya memiliki ciri khas tersendiri, yaitu orang-orang terpelajar atau mereka yang mengaku sebagai intelektual atau calon-calon intelektual. Metode yang baik dan bijaksana dalam dakwah di kampus adalah metode yang dapat diterima oleh obyek dakwah kampus: pelajar, mahasiswa, guru, dan dosen; dengan tidak menyalahi sunnah Rasulullah. Pelajar dan mahasiswa akan lebih mudah diajak mengenal Allah, Rasul, dan Islam melalui hal-hal yang akrab dan mereka geluti sehari-hari. Pendekatan keilmuan akan sangat membantu keberhasilan dakwah ini. Namun, menyentuh sisi fitrah lebih penting lagi karena obyek dakwah disini umumnya sangat kering dari unsur ruhiyah serta merindukan hidupnya fitrah mereka sebagai manusia yang tengah mencari bentuk pribadi dan jatidiri.
2.2. Tujuan Dakwah Ammah
Tujuan dakwah kampus harus selalu menjadi satu hal yang terus diingat oleh para ADK, agar mereka tahu ke mana arah dakwah kampus berjalan.
Tujuan dakwah di kampus ini adalah mengajak para pelajar, mahasiswa dan dosen untuk mengenal Allah, Rasul dan Islam, dengan cara bijaksana dan pelajaran yang baik sehingga mereka beriman dengan keesaan Alllah, kelanjutan risalah, dan kebenaran Islam. Tujuan utama dari Dakwah kampus adalah adanya suplai alumni yang berafiliasi kepada Islam, dan optimalisasi peran kampus dalam upaya mentransformasi masyarakat menuju masyarakat Islami. Derivasi dari hal ini maka peran tarbiyah kampus yang berkesinambungan - untuk menghasilkan alumni-alumni yang berafiliasi kepada Islam - menjadi sangat penting. Derivasi lainnya, lembaga dakwah kampus perlu secara bertahap menjadi lembaga dakwah kampus yang matang, agar dapat memainkan perannya di perguruan tinggi yang bersangkutan untuk dapat mengusung perubahan. Mengenai tahapan dakwah kampus ini perlu kajian tersendiri.
2.3. Sasaran Dakwah Kampus
Untuk mencapai tujuan di atas, ada beberapa sasaran antara yang harus dicapai terlebih dahulu. Sasaran tersebut antara lain:
1. Terbentuknya bi’ah (lingkungan) yang kondusif bagi kehidupan Islami di kampus, baik dalam sisi moral, intelektual, maupun tanggungjawab sosial. Kita tahu bahwa kampus adalah lingkungan yang heterogen. Ketika berinteraksi di dalamnya, maka butuh kekuatan untuk menjaga idealisme dengan tetap memperhatikan realitas. Hal ini berarti dakwah kampus memerlukan sebuah lingkungan kecil yang senantiasa dapat terus men-charge ruhiyah para ADK di tengah-tengah aktivitasnya di kampus. Sarana untuk itu adalah tarbiyah yang berkesinambungan untuk para ADK dan yang didakwahkannya.
2. Terbentuknya opini ketinggian Islam di kalangan kampus. Oleh karena itu syiar dalam mengkampanyekan kemuliaan Islam harus terus dilakukan secara rutin. Sarana-sarana syiar untuk ini cukup banyak, misalnya majalah, perpustakaan, peringatan hari besar Islam, tabligh akbar, dan sebagainya. Barangkali bisa kita diskusikan mengenai hal ini dalam kajian tersendiri.
3. Terbentuknya kesinambungan barisan pendukung dakwah. Untuk itu, tarbiyah yang berkesinambungan di setiap angkatan mahasiswa harus dipastikan berjalan. Ini membutuhkan sebuah lajnah yang dapat mengawasi itu dalam jangka panjang.
4. Terbentuknya hubungan timbal balik yang sinergis antara dakwah ammah dengan pengkaderan. Artinya, semua rekrutmen-rekrutmen dakwah diupayakan dapat dilanjutkan dengan proses dakwah secara khusus terhadap orang-orang yang direkrut tersebut.
2.4. Peran Kampus
1. Penyemai dan penyebar ide, pendapat dan pemikiran.
2. Penyebar kemajuan ilmu dan peradaban.
3. Penyemai potensi keilmuan dan kepemimpinan.
4. Penjaga moral bangsa yang mandiri dan obyektif.
5. Peng-islah penguasa dan pembela masyarakat.
Lingkup
1. Amal khidamiy (pelayanan) dan dakwiy
2. Amal sya’biy (kemasyarakatan) dan siyasih (politik)
3. Amal ilmiy (keilmuan), fanny (keterampilan), ‘ilamiy (persuratkabaran), dan tandzimi (keorganisasian)
Yang terpokok adalah aktifis dakwah kampus berhasil menyajikan Islam sebagai kebutuhan fitrah insaniyah mereka sekaligus memberikan wawasan tentang integralitas Islam serta peranan mereka dalam kebangkitan Ummat Islam.
2.5. Kondisi Kampus Sebagai Medan Dakwah
Kampus adalah lahan yang subur untuk manuver dakwah Islam. Ia berbeda dengan perkantoran, pabrik, pasar, dan lain-lain. Orang-orang yang datang ke kampus memang telah siap untuk menuntut ilmu dan mengembangkan penalarannya. Mereka bersikap terbuka dan kritis terhadap perubahan yang datang. Namun satu hal yang perlu diingat, dewasa ini, masyarakat kampus umumnya tidak dididik untuk memahami Islam dengan benar, juga tidak dengan metode yang Islami, meskipun kampus tersebut dibuat oleh kaum muslimin (Perguruan Tinggi Islam).
Akibatnya masyarakat kampus memiliki kondisi khas yang merupakan korban pola pendidikan jahiliyyah yang bertumpu pada beberapa segi:
1. Sikap berpikir ilmiah yang cenderung sekuler.
2. Kebebasan berpendapat yang menafikan nilai-nilai wahyu.
3. Kegiatan pendidikan (co education) yang melanggar akhlak.
4. Kegiatan ekstra kurikuler yang laghwi (tidak bermanfaat ukhrowi)
Hal ini menjadikan masyarakat kampus kering dari nilai-nilai Islam. Mereka yang berminat untuk memperbaiki diri dan kepribadiannya mencari-cari berbagai jalan. Di saat seperti ini masuklah berbagai harokah haddamah (gerakan yang menghancurkan) ke dalam kampus sehingga menjadikan kampus sebagai arena utama mencari kader.
Masyarakat kampus adalah sasaran utama ghazwul fikri yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam. Boleh dikatakan, tiada kampus yang sunyi dari upaya-upaya tasykik, tasywih, tadzwib, dan tafkir. Orang-orang yang tidak senang dengan Islam sengaja memasukkan berbagai jenis kesenangan dan hiburan yang digandrungi para pemuda. Mereka mengupayakan masyarakat kampus lalai dan jauh dari ajaran Islam. Mereka tidak segan-segan mempopulerkan berbagai acara sekuler dan bertentangan dengan ajaran agama Islam.
Para mahasiswa di kampus dalam pandangannya terhadap Islam dapat kita golongkan dalam:
• Mereka yang antipati terhadap ajaran Islam (non Islam, sekuler, nasionalis)
• Mereka yang tidak perduli terhadap ajaran Islam (floating mass)
• Mereka yang menaruh minat terhadap Islam tetapi belum menemukan jalan
• Mereka yang sangat antusias terhadap Islam tetapi mengambil jalan yang salah
• Mereka yang terlibat dengan dakwah Islam di kampus
Ditinjau dari sisi dakwah, kondisi kampus dewasa ini sangat memprihatinkan. Termasuk di sekolah atau universitas yang berlabelkan Islam. Langkah penyelamatan hendaknya segera dilakukan untuk kejayaan Islam wal muslimin.
2.6. Paradigma-Paradigma Dasar
Sebelum menentukan sebuah strategi penataan Dakwah Kampus, ada baiknya kita tentukan dulu Paradigma-Paradigma Dasar Dakwah Kampus kita sebagai kerangka acuan seluruh pembicaraan selanjutnya. Adapun Paradigma-Paradigma Dasar Dakwah Kampus kita adalah sebagai berikut:
1. Sesuai dengan asholah dakwah (orisinalitas dakwah) maka Dakwah Kampus harus disampaikan kepada semua lapisan golongan masyarakat kampus, bahkan kepada semua individu manusia, karena dakwah yang tidak tersosialisasi dengan baik pada masyarakatnya niscaya tidak akan memiliki basis pergerakan yang kokoh (al-qoidatush sholbah), yang pada gilirannya akan mengalami disorientasi dakwah. Ada suatu kaidah dakwah yang harus selalu diingat oleh setiap da’I yaitu kita (para da’I) berasal dari mereka (masyarakat), akan bersama mereka, dan kembali pada mereka (nahnu minhum, wa ma’ahum, wa ‘alaihim).
2. Kaidah Dakwah di Kampus adalah dakwah ‘ammah wa harokatudzh dzhohiroh (dakwah umum dan aktifitas terbuka). Dakwah umum maksudnya mampu membahasakan muatan dan aktifitasnya agar mudah diterima oleh berbagai jenis pemikiran dengan bahasa umum dan universal serta lebih adaptif pada kondisi dan situasi riil. Gerak yang terbuka (jelas) maksudnya suatu gerak aktifitas yang mencerminkan kerapihan, keindahan, dan kesinambungan (profesionalitas) sehingga aktifis dan sasaran dakwah kampus mampu menangkap suatu suasana Islami yang nyata, berada pada dataran menyatu dengan denyut kehidupan kampus.
3. Kaidah yang lain adalah Dakwah Kampus bukan hanya untuk Dakwah Kampus. Ketika berdakwah di Kampus, para aktifis dakwah kampus (ADK) harus menyadari bahwa aktifitas dakwah mereka dibatasi oleh batas waktu kuliah (4-6 tahun), suasana yang homogen (mahasiswa yg dominan dari segi jumlah, umur yang sebaya serta tujuan untuk berkuliah) serta usia mereka yang terus bertambah. Dakwah yang sebenarnya ada diluar kampus, waktu yang lebih lama yaitu lebih dari 45 tahun (berdasar life expectancy manusia Indonesia 65 tahun), masyarakat yang heterogen serta kehidupan nyata/riil yang lebih kompleks dibandingkan kampus. Sehingga para ADK harus menyiapkan bekal yang cukup untuk kehidupan paska kampus agar mereka survive, tetap terus berdakwah paska kampus. Mereka harus mempunyai kompetensi (IPK, professional, keahlian khusus dan umum) dan kredibilitas (moralitas, sosial dan perilaku) yang tinggi.
4. Untuk menunjang operasi dan manuver Dakwah Kampus maka kita harus mengoptimalkan seluruh potensi yang ada, baik internal maupun eksternal. Sehingga semua sarana dan prasarana dapat dimanfaatkan untuk kepentingan dakwah, selama hal tersebut telah dipertimbangkan secara fiqhus syar’I dan fiqhul waqi’ (realitas) serta diputuskan lewat mekanisme syuro yang shahih. Ibarat suatu atom, dakwah harus bisa membuat lingkungan di sekitarnya berputar-putar mengelilinginya meskipun dalam orbit yang berbeda-beda. Kaidah ini pun merupakan penjabaran lebih lanjut dari kaidah Dakwah ‘Ammah karena mengikutsertakan para mahasiswa selain para ADK. Dakwah Kampus makin membumi dan mengakar.
5. Program Dakwah Kampus yang akan digulirkan haruslah diset-up secara marhaliyah (bertahap) dengan mempertimbangkan fiqhul awlawiyat (azas prioritas) dan fiqhul muwazanat (azas kesetimbangan), dan harus senantiasa dimutaba’ahi hasilnya (in control). Hal ini dimaksudkan agar obyek dakwah mendapatkan treatmen yang sesuai dengan pemahamannya dan di sisi lain hal-hal yang berbobot amniyyah tetap terjaga.
6. Dalam pelaksanaan Dakwah Kampus harus memperhatikan prinsip amal jama’i. Adalah merupakan sunnatullah yang tetap bahwa segala sesuatunya mempunyai keterbatasan masing-masing. Islam mewajibkan berjama’ah dalam rangka saling mengisi sehingga tercipta keharmonisan dan kesempurnaan. Para pemimpin dan prajurit dakwah harus menata dirinya menjadi suatu shaff yang rapih bagaikan bangunan yang kokoh. Dalam beramal jama’I diperlukan software berupa minhaj (metode), wasilah (sarana), dan uslub (cara). Dengan kata lain diperlukan strategi dan program yang akan diaktualisasikan. Selain itu juga diperlukan hardware berupa sistem yang rapih dan koordinasi yang solid serta terarah.
7. Dakwah Islam adalah dakwah syamilah yaitu sesuai dengan sifat Islam itu sendiri. Ini berarti bahwa Dakwah Kampus harus bisa masuk ke semua sektor dan menjawab semua tantangan yang dihadapinya. Peng’kotak-kotak’an dakwah hanya pada bidang-bidang tertentu saja adalah merupakan kesalahan besar. Dakwah meliputi semua aspek dalam kehidupan manusia. Berkaitan dengan dakwah kampus, dakwah harus bisa menjawab semua permasalahan dan tantangan yang ada di kampus. Ia meliputi, keilmiahan (IPTEK), keorganisasian, kepemimpinan, manajerial, administrasi, sosial, politik, dan lain sebagainya. Dakwah Kampus harus mampu melahirkan SDM-SDM yang tangguh untuk melakukan Islamisasi Ilmu Pengetahuan, mempengaruhi, menerjemahkan, atau merumuskan konsep dan nilai-nilai Islam ke dalam kebijakan-kebijakan publik
2.7. Strategi
1. Membentuk dan menyinambungkan keberadaan Aktifis Dakwah Kampus.
2. Menyebarkan dan mengamalkan pemikiran, perilaku dan adab Islam.
3. Membangun kesadaran tentang pentingnya keunggulan akhlak yang dibarengi dengan penguasaan ilmu, teknologi dan ketrampilan sebagai syarat mutlak kebangkitan Islam.
4. Membangun kesadaran sivitas akademika tentang peran sejarah, sosial dan politiknya, di masa sekarang dan masa depan.
5. Menyelaraskan kerja antar lembaga kemahasiswaan
6. Melibatkan seluruh sivitas akademika dalam kegiatan.
7. Mengikis kegiatan dan kebiasaan yang tidak islami dengan cara memberikan alternatif yang islami.
8. Mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia paska kampus.
9. Mengefektifkan peran kampus.
2.8. Sarana-Sarana Dakwah Umum di Kampus
Sarana-sarana untuk kegiatan dakwah umum dan pergerakan terbuka di kampus antara lain:
• Unit kerja kerohanian Islam pada jajaran kerja BEM / UKM atau seksi kerohanian
• Forum-forum seperti latihan manajemen, latihan kepemimpinan, kursus kader
• koperasi, kursus jurnalistik, studi terhadap minat dan lain-lain
• Himpunan-himpunan jurusan atau profesi
• Buletin, majalah dinding, jurnal
• Mesjid kampus
• Panitia Hari Besar Islam
• Kegiatan kerohanian di asrama mahasiswa dan pemondokan
• Dan lain-lain
2.9. Analisis dan kendala dakwah ammah di FKIP
Generasi muda adalah generasi yang penuh semangat, pemikiran brilian dan tenaga yang tinggi yang akan bernilai lebih bila dikorbankan dalam perjuangan dakwah ini. Dakwah kampus unitnya berbeda dengan dakwah pada umumnya. Dakwah kampus targetnya adalah orang – orang yang intelektual, penuh keragaman latar belakang fikrah, penuh kevariatifan motif, dan penuh pemikiran – pemikiran budaya yang tentunya harus disikapi dengan cara yang berbeda.
Tak bisa dipungkiri bahwa untuk terus mempertahankan dakwah ammah ini khususnya di FKIP dibutuhkan keteguhan dan komitmen yang tinggi dari para pelakunya_ADK agar dakwah ini terjamin. Jika komitmen dan keteguhan sudah dianggap sepele maka mana mungkin dakwah ammah ini bisa terus dan menyentuh orang-orang yang ingin didakwahi.
Para aktis dakwah sudah seharusnyalah melakukan pergaulan dengan baik sehingga kata-kata “membaur tanpa melebur” bersama orang-orang ammah tidak perlu dikhawatirkan lagi. Jangan bersifat eksklusif, sekarang ini kebanyakan aktifis dakwah cenderung bergaul dengan sesamanya, sehingga dakwah ammah yang harusnya dijalankan dan diprioritaskan menjadi terhambat dan akhirnya Dakwah ammah pun kurang menyentuh kalangan civitas akademika. Memang terkadang kita beranggapan bahwa “apabila kita bergaul bersama-sama sesama bisa saling menguatkan dan menjaga diri”. Tidak salah dengan pedapat itu karena kita pun harus selalu menjaga diri, tapi jika terus menerus bersembunyi didalam tameng seperti itu, bagaimaa dakwah ini bisa bertahan. Padahal esensi utama dari dakwah ammah ini adalah menyeru dan mengajak kepada semua orang tanpa terkecuali. Ke_eksklusifan kita ini terlihat dari sedikitnya koneksi kita di luar sana yang mugki suatu saat merekalah yang akan mendukung dakwah ini. Dengan ketakutan semacam itu, sudah selayaknyalah para pelaku dakwah ini harus selalu menguatkan ruhiyahnya dengan tarbiyah dzatiah yang kuat sebagai tameng ini semua.
Permasalahan yang mungkin masih dapat dikatakan menghangat adalah masalah komitmenitas aktifis.
*Dari berbagai sumber
