Nurul's Profil

Foto saya
Seorang ibu, guru, dan pembelajar.

Sabtu, 30 Oktober 2010

::::Q:::

Pada pagi ini, aku masih mengingat kala malam membekas bersama dukamu dan aku terdiam, hilang kata. Bisu. Kuingin katakan bahwa aku lebih pedih. Tapi, aku tak boleh sedih. Ada yang lebih berduka yang harus kubagikan senyum untuknya. Ada luka yang kurasa lebih pedih yang harus kubalut dengan canda dan tawa. Aku tetap tersenyum dalam pedih ini. Aku tetap tetawa dalam luka ini, untuk mereka yang harus kubuat tersenyum.

Kubiarkan waktu berlalu tanpa harus kusia-siakan. Aku tahu, waktulah yang nanti juga kan menjawab. Aku percaya, Hidup ini akan berakhir bahagia, happy ending, begitu istilah kerennya. Lebih bahagia lagi jika pada akhirnya dipenuhi barokah dari-Nya. aku percaya sebab Dia telah berjanji pada mereka yang berserah diri kepada-Nya bahwa pada akhirnya hidup ini akan bahagia.

Allah, Allah, Allah..... Aku memanggil-Mu, merintih......... Aku Memohon dan aku percaya pada ketentuan-Mu. Semuanya akan indah pada masanya dan Engkau akan memberikan apa yang aku butuhkan bukan apa yang aku inginkan.

Rabu, 27 Oktober 2010

Mencari Bahagia (Ira dan Aku)

Ira
Hati itu kecil jika diisi dengan lirih
Hati itu sakit jika disayat belati kasih
Hati itu remuk jika dirumbung sendu
Kapan ia bahagia?

Aku
Hati bahagia bukan saat kaya raya
Sebab kaya hanya fisik semata
Bukan pula saat kasih terbalaskan
Sebab itu hanya emosi semata
Tapi, hati bahagia saat hati telah mampu bersabar dan bersyukur
Atas segala nikmat Tuhan
Percuma harta melimpah
Tapi tak mampu bersyukur
Percuma kasih berlimpah
Tapi hanya kasih semu
Bahagialah dengan sabar dan syukur
Kebahagiaan hakiki pun pasti menanti

Ira
Jika syukur pengobat itu
Dimana kudapat ia jika hati tertutup beku
Dimana kuraih ia jika asa tertelan resah
Dimana?
Jangan berfilosofi dengan hati



Aku
Di setiap sujudmu!
Sujud panjang tahajudmu
Jika belum juga kau temui
Mungkin hati kita masih terbelenggu prasangka
Indralaya, 26 Oktober 2010

Hilang

Menari di bawah gerimis
Tertawa kemudian menangis
Satu kaki terperosok ke got berlumpur
Kubangan comberan
Gerimis hati ini
Hujan dan banjir
Hitam, keruh, dan kotor sudah
Hilang sudah kejernihan itu
Hingga embun pun menjadi keruh

Indralaya, 251010

Tanpa Judul

Aku menulis puisi tanpa judul
Sebab aku telah kehabisan kata untuk mencari judul
Seperti kepala yang kehabisan rambut dan gundul
Kata-kata yang kukumpul
Tak satupun cocok jadi judul
Semuanya jadul
Hingga pena pun kupukul
Pada meja hingga tumpul

Indralaya, 251010

Senin, 18 Oktober 2010

Sedikit Renungan Tentang Maut

Maut itu sudah ditetapkan dann ga bilang2 kl mau datang, seminggu terakhir 2 kabar serupa aku terima. Pertama nenek dari pihak ayah meninggal dunia, kmudian kemarin pagi aku dapat kabar lagi teman SD ku dulu juga telah berpulang ke rahmatullah.
Begitulah maut datang, tak pernah kita ketahui kapan ia datang. Sekarang giliran mereka, mungkin sebentar lagi giliran kita. Ntah kapan itu, tapi kita semakin dekat saja dengannya. Kita hanya bisa melakukan yang terbaik setiap saat untuk menyongsongnya agar pada saat ia datang kita telah siap menghadapinya. Akhir yang baik, itu harapan kita. Semoga harapan itu tak sekedar harapan karena ia pasti datang dan tak ingkar janji meski kita tak tahu kapan dan dimana.

Minggu, 17 Oktober 2010

Malam Membekas Bersama Dukamu

Malam berlari bersama dukamu
Dan tak ingkar janji menyongsong pagi
Entah apa bentuk dukamu
Hingga kau mohon pengampunan atasnya
Entah seberapa dalam pedihmu
Hingga kau merintih dalam keramaian yang semu

Aku hanya terdiam
Ingin kurasakan dukamu
Tapi, mungkin hatiku telah beku untuk merasakannya
Begitupun jiwaku
Semuanya membeku untukmu

Entah apa yang salah?
Mungkin hatiku yang telah terjebak dalam lorong gelap
Yang di dalamnya aku mengejarmu
Tapi, jangankan rupamu, bayangmu pun tak kulihat
Kurasa semuanya terlalu gelap
Hingga berjalan pun aku tak mampu di lorong ini
Dan malam ini membekas bersama dukamu.

Indralaya, 17 Oktober 2010

Rabu, 13 Oktober 2010

Alam Berpuisi

Pagi berpuisi
Herangkai kata syukur lewat kilau embun pagi
Suci dan jernih

Mentari berpuisi
Memancarkan lembut cahaya cinta-Nya di awal hari
Awan berpuisi
Menyairkan irama angin di atas awang-awang
berlarian ia ke barat

Daun-daun berpuisi
Menarikan melodi angin pada pucuk-pucuknya
Ah, indahnya puisi milik semesta
Tak ada kufur, tak ada ingkar
Semua tunduk, patuh penuh syukur


Indralaya, 14 Oktober 2010

Selasa, 12 Oktober 2010

Sepotong Doa untuk Ia yang Telah Tiada

"Kutitip Sepotong doa untuknya yang hari ini telah kembali kepangkuan Illahi, menyatu dengan tanah. kembali ke asalnya. Semoga Allah menjadikan tempat kembalinya menjadi tempat seindah-indahnya tempat untuk istirahatnya. Semoga Allah menjadikan setiap amalannya menjadi cahaya yang menerangi tempat kembalinya. Terakhir ku memohon semoga Allah memberatkan timbangan kebaikan untuknya di akhir nanti. Sungguh bukan aku tak mencintai dan menyanyanginya, ingin sekali aku berada disana, menatap wajahnya untuk yang terakhir kalinya.
kutitip sepotong doa untuk mereka yang berduka disana, semoga Allah memberikan kesabaran seperti sabarnya Ali bin Abi Thalib saat Fatimah menghadap Khaliknya. Semoga Allah menganugerahi hati yang ikhlas untuk melepas kepergiannya.
Kutitipkan sepotong doa untuk hati yang sedang belajar sabar agar ia senantiasa berada dalam jalan-Nya meski ujian demi ujian datang silih berganti."


Indralaya, 13 Oktober 2010