Ketika matahari mulai meninggi, kulafadzkan Basmalah dan melangkahkan kaki meninggalkan rumah ke-tigaku. Sekedar pamit, kujabat tangan ayuk dan sahabatku. Perjalananku hari ini dimulai.
Berawal dari bus kota yang memang tidak penuh, tapi tetap saja dadaku terasa sesak. Pasalnya, musik bus kota yang selalu saja keras, terasa panas telinga ditambah penumpang juga kernetnya merokok. Masya Allah. Apakah mereka tak menyadari kalau banyak orang yang amat membenci rokok dan musik-musik seperti itu? Mereka tak bisa egois, meskipun itu hak mereka. Akan tetapi, hak merekapun dibatasi oleh hak-hak orang lain.
Terlepas dari kesesakan itu, aku harus berjalan kaki dari Masjid Agung Palembang ke benteng kuto besak (BKB), tak apalah, sedikit berolah raga. Telah kutemui seorang pengemis, ya Allah begitu banyak orang yang kurang beruntung di dunia ini, namun di antara mereka tetap bersyukur. Bahkan orang-orang yang sangat beruntung yang tak pandai bersyukur. Ampuni hamba yang tak pandai bersyukur ya Rabb.
Setelah sedikit merenungi diri, aku bertemu pamanku. Subhanallah, telah lama aku tak bertemu dengannya. Aku juga bertemu dengan adik kakekku yang sebelumnya belum pernah kulihat. Subhallah...
Kini, kumulai mengarungi sungai musi, sebuah perjalanan menuju tempat yang terpencil dan jauh dari keramaian. Empat jam perjalanan dengan speedboat.
Kembali kulafadzkan Basmalah dan speedboat pun mulai bergerak. Bersama kilau sungai musi di pagi hari, kumeninggalkan kota Bari ini dengan harapan berjumpa lagi di waktu yang akan datang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar