Kantin, jam makan siang
Seribu rupiah
Kubagikan seribu kasih
Pada sebuah kotak yang bertuliskan:
“PEDULI………..”
Hanya seribu rupiah
Ya, meski sedikit berat tanganku mengulur pada kotak itu
Tapi, sudahlah!
Toh, hanya seribu rupiah
Di rumah aku punya seratus ribu dalam lipatan diaryku
Tak usah di rumah, di dompet
Aku punya dua ratus ribu dan tersimpan di ATM satu juta rupiah
Makanku tak selesai
Satu lagi kotak bertuliskan:
:PEDULI…….”
Tak ada lagi duit seribu di dompetku
Masih ada lima ribu, sepuluh ribu, duapuluh ribu, dan seratus ribu
Ah, sudahlah!
Tadi telah kubagikan seribu cinta pada kotak pertama
Dan aku tak peduli kotak itu berlalu
Aku terus makan
Mentawai, kala matahari di atas ubun-ubun
Bumiku luluh lantak
Rumah-rumah hancur
Kampungku rata dengan tanah
Dan mayatpun bergelimpangan
Bumiku kemarin marah dan kami adalah korban!
Siang ini terik
Matahari di atas ubun-ubun
Tapi, aku terus melangkah diantara puing-puing ini
Ah, berserakan
Aku tersandung.
Tersandung tangan mayat seorang pemuda
Aku terjatuh,
Tepat di depanku mayat seorang bayi telah kaku
aku menangis!
Aku lapar!
Aku hanya butuh satu kasih saja, kawan!
Indralaya, 1 November 2010

Tidak ada komentar:
Posting Komentar