Kasih yang Hilang di Negeri Jiran
Sejak aku dilahirkan ke dunia aku tak pernah diizinkan untuk melihat dunia. Aku tak pernah tahu seperti apa rupa dunia ini, aku pun tak pernah tahu bagaimana bentuk pepohonan, rumah, sungai dan aku juga tak pernah tahu seperti apa rupa orang-orang disekitarku. Rupa ayah yang menyanyangiku dan rupa ibu yang melahirkanku ke dunia ini. Aku dilahirkan tanpa penglihatan. Dunia ini gelap bagiku. Tak ada cahaya meski hanya setitik.
Pernah aku menyesal terlahir dengan kondisi seperti ini. Namun, kasih sayang ayah dan bundalah yang menguatkanku. Mereka menerimaku apa adanya, mereka selalu berkata, akulah anugerah terindah dalam hidup mereka. ah, ayah bunda, andai kalian tahu aku ingin melihat bagaimana rupa orang yang amat menyayangiku itu, tak sekedar merasakan kasih sayangmu. Bukan rindu kasihmu, tapi rindu rupamu.
Bunda, kerinduan ini membuncah ketika suara lembutmu bercerita tentang pepohonan yang rindang.
“Nak, pohon itu ditopang oleh batang yang kokoh dan akar sebagai penguatnya. Dahan dan daun-daunnya membentuk kanopi sehingga kita akan merasa sejuk ketika berteduh di bawahnya. ketika musim hujan, daun-daunnya tumbuh subur, hijau. Kemudianmenguning ketika musim kemarau tiba dan ketika tiba saatnya ia gugur dan jatuh ke bumi kemudian menyatu dengan tanah.” Begitu katamu. Kemudian kau bawa aku ke suatu tempat. “Rabalah benda ini nak, ini namanya pohon, rasakan kesejukan berteduh di bawah pohon ini.”
“Bunda, aku merasa sejuk disini, bisakah suatu hari nanti aku melihat pohon ini?” Tanyaku.
“Bisa nak, lihatlah ia dengan mata hatimu, sesungguhnya mata hati lebih tajam dari mata yang mampu melihat dunia.” Tegasmu.
Bunda, engkau juga sering bercerita tentang kucingku, manis namanya. Kau ceritakan perilakunya yang manja. Kau juga ceritakan tentang warnanya. Tak hanya tentang kucing, namun tentang baju-baju yang baru saja kau belikan untukku. Kau bercerita tentang warnanya, ada kuning, biru langit, hijau muda dengan bunga-bunga kecil, merah muda dan warna-warna lain yang tak pernah aku tahu bagaimana rupanya. Ah bunda, andai engkau tahu aku paling benci ketika kau bercerita tentang warna karena aku tak pernah tahu rupanya. Aku tak tahu seperti apa hijau, kuning, merah dan biru itu. Aku tak pernah tahu, bunda.
Tak pernah kulupakan ketika aku telah merasa ngantuk, tangan lembut bundalah yang mengusap keningku, menyanyikan lagu-lagu tentang kebesaran Tuhan, menyanyikan lagu tentang kasihnya kepadaku dan membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an.
“Tak ada yang diciptakan dengan sia-sia di dunia ini. Tak ada yang ketimpangan pada penciptaan-Nya. Tuhan menciptakan semua dengan keseimbangannya, diciptakan si kaya dan si miskin supaya saling melengkapi, diciptakan yang sehat dan sakit supaya bisa menyukuri hidup ini dan diciptakan cinta dan benci supaya bisa saling mengerti. Manusialah yang membuat ketimpangan itu, bukan Tuhan nak. Jadi, penciptaanmu, ayah dan bunda sama sekali tak ada ketimpangan. Diapun menciptakan segala sesuatu itu dengan kelebihan dan kekurangan. Inilah keseimbangan darinya. Janganlah kita membuat ketimpangan atas keseimbangan itu agar kita mampu menyukuri nikmat-Nya.” Pesan yang kau katakan sebelum aku terlelap di suatu malam. Masih melekat sampai detik ini.
Saat aku mulai diam, engkau meninggalkan kamarku. Saat itulah aku mulai merenungi pesan-pesan yang engkau sampaikan. Sungguh, aku salah berpikir Tuhan tak adil, Dia timpang menciptakanku dengan kegelapan ini sedang orang-orang mampu menyaksikan matahari terbit dan terbenam.
“Kadang orang-orang hanya mampu melihat matahari terbit dan terbenam saja, akan tetapi tak mampu melihat kebesaran Tuhan dibalik peristiwa itu karena hati mereka yang tak mampu melihatnya. Lihatlah dengan mata hati nak. Percayalah nak, mata hatimu mampu melihat itu.” Begitu kata bunda ketika aku mengeluh karena tak bisa melihat matahari terbit dan terbenam.
Ketika aku merasa bunda begitu berharga dalam hidupku. Tiba-tiba Tuhan berkehendak lain. Suatu malam, sayup kudengar percakapan ayah dan bunda, mereka menyebut namaku. Semakin lama semakin tampak ada percekcokkan antara keduanya. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya. Kucoba mendekat. Semakin jelas apa yang mereka bicarakan.
“Bunda rasa, inilah yang dapat bunda lakukan untuk Syifa, biarkan bunda membantu ayah menopang keluarga ini,”
“Sudahlah, ayah rasa keputusan itu akan membuat Syifa bersedih, biarlah ayah yang menopang keluarga ini, ayah masih mampu meskipun keadaan ekonomi sekarang memang sedang tidak mendukung. Ayah masih mampu.”
“tapi, bunda ingin Syifa seperti anak-anak lainnya, setidaknya mampu membaca dan menulis,”
“Ayah juga ingin, tapi biarlah ayah yang berusaha. Cukup bunda di rumah, dukung Syifa untuk menemukan jati dirinya, dukung ia untuk kuat menghadapi hidup ini. Tidak perlu bunda bersusah payah bekerja di negeri orang, tidak perlu jauh-jauh ke Malaysia. Cukup di rumah, nda,”
“Tapi, yah..”
“Bunda akan tetap disini.” Potongku, kurasa mereka pasti terkejut. Sejenak mereka terdiam.
“Syifa, belum tidur sayang?” Tanya bunda.
“Bunda tidak boleh pergi, biarlah Syifa tidak bisa menulis dan membaca, biarlah Syifa tidak bisa melihat dunia ini asalkan bunda tetap disini, menemani Syifa.” Ucapku berurai air mata. Dalam hatiku menjerit, aku ingin bisa menulis, membaca dan melihat dunia ini. Tapi, bunda jauh lebih penting dari semua itu.
“Syifa, bunda melakukan semua ini untuk Syifa, bukan untuk ayah ataupun untuk bunda.” Bunda mendekatiku yang masih memaku di pintu kamar. Kurasakan tangannya menyentuh bahuku.
“Tapi, bunda lebih penting,” gumamku terbata. “ Bukankah bunda sering mengatakan kita harus bersyukur dengan setiap anugerahnya, Syifa bersyukur dengan keadaan Syifa. Jadi, tak perlu bunda bersusah payah ke negeri orang demi Syifa.”
“Bunda akan tetap pergi sayang, Bunda janji, bunda pasti kembali. Bunda takkan lama sayang, kalau masa kontraknya sudah habis, bunda pasti akan kembali.”
Aku diam pun ayah. Suasana menjadi begitu kaku. Kudengar bunda menarik nafas panjang.
“Sayang, sudah terlalu larut, bunda temani tidur malam ini.”
Bunda menuntunku masuk ke kamar. Aku masih diam. Tak mampu kuucapkan kata-kata lagi. Lidahku kelu. Tak bisa kubayangkan tak ada bunda di sampingku. Malam itu kulewati dengan hati yang gundah gulana, perih dan pedih.
Dua minggu kemudian, bunda benar-benar pergi untuk mengais rezeki di negara tetangga, Malaysia. Ayah tak mampu menghalangi keinginan bunda pun aku. Aku benar-benar terpuruk. Tak ada lagi yang mencurahkan kasih sayang sepenuhnya kepadaku, tak ada lagi suara lembut yang mengiringi tidurku dan tak ada lagi belai lembut tangan wanita mulia itu.
Hari demi hari berlalu, minggu-minggu terlewati dan bulanpun berganti. Tak ada kabar yang aku terima tentang bunda. Aku mulai merasa gelagat keresahan pada diri ayah sebab bunda pernah berjanji akan memberi kabar minimal dua bulan sekali. Tapi, apa yang terjadi? Enam bulan terlewati, jangankan kabar bunda, dimana ia sekarang pun kami tak tahu. Apakah ia sampai ke negeri Jiran itu atau tidak? Kami tak tahu sama sekali.
Waktu terus berlalu tanpa toleransi. Masih belum ada kabar tentang bunda. Kini hari-hariku dilewati dengan harapan-harapan tentang bunda. Harapan ada sepucuk surat yang datangnya dari negeri jiran atau sebuah kejutan, bunda tiba-tiba muncul di depanku. Namun, semua itu hanya harapan yang belum juga menjadi nyata.
“Yah, apa bunda sudah berkirim surat dengan ayah? Atau sekedar menitipkan pesan. Syifa dengar bundanya Aisyah sudah pulang dari Malaysia, mungkin bunda menitipkan pesan kepadanya.” Tanyaku kepada ayah.
“Syifa jangan bosan menunggu bunda ya, yakinlah bunda pasti akan kembali meski sekarang kita belum menerima kabar tentangnya. Tapi, yakinlah bunda akan kembali kepada kita.”
“Tapi, kapan yah? Syifa sudah bosan menunggu. Apakah Tuhan tidak sayang lagi dengan kita sehingga Dia memisahkan kita dengan bunda.”
“Astaghfirullahal a’dzim, istighfar nak. Tuhan itu sayang dengan kita semua, Dia memisahkan kita karena Dia ingin menguji seberapa sabar kita menghadapi ujian dari-Nya dan yakinlah Dia ingin menunjukkan suatu yang tak pernah kita duga.”
“Astaghfirullahal a’dzim,” gumamku. “Yah, Syifa rindu bunda. Syifa rindu saat-saat kita sarapan pagi dengan nasi goreng buatan bunda, saat kita mendengarkan lagu bersama, saat ayah dan bunda membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an untuk Syifa, Syifa rindu saat-saat bersama itu.”
Ayah memelukku erat. Kudengar tangisnya yang tertahan.
“Syifa, meskipun saat-saat itu takkan kembali lagi, tapi yakin sayang akan ada waktu untuk itu di suatu hari nanti. Mungkin tak di dunia kiat menemukannya, tapi di akhirat nanti nak, kita harus yakin.” Kata ayah terisak.
“Syifa tak sabar yah menunggu semua itu, Syifa ingin secepatnya,”
“Bersabarlah nak, sesungguhnya sabar itu indah, ia akan membawa kita pada kebahagiaan yang sesungguhnya dan dengan sabar kita akan ikhlas menghadapi hidup ini.” Ayah melepas dekapannya. “Ayo nak, kita mengadu keresahan kita kepada Kholik kita, kita mencurahkan semua isi hati kita kepada-Nya. Semoga setelah itu akan ada ketenangan dan kita diberi kesabaran seperti sabar Nabi Ayub saat diuji keimanannya, sabar Nabi Ibrahim saat harus menyembelih putra tercintanya, sabar Nabi Ismail saat akan dikurbankan dan sabar Maryam saat semua orang mencemoohkannya.”
Tak pernah sedetik pun waktu berhenti berlari hingga sampailah aku pada tahun ke enam tanpa bunda. Tak ada kabar darinya. Tapi, aku masih terus berharap bunda datang atau sekedar memberi kabar. Kata orang, mungkin bunda termasuk TKI ilegal. Entahlah. Tapi harapanku tak pudar juga.
Ada saatnya memang aku rindu pada sosok yang penyayang itu. Aku rindu cerita-ceritanya, cerita tentang pohon, kucing dan warna. Aku rindu meski dulu aku pernah benci ketika bunda bercerita tentang warna karena aku tak pernah tahu warna itu seperti apa, yang aku tahu hanya hitam dan pekat. Ah bunda, aku menyesal pernah membenci semua itu.
Bunda, andai engkau tahu betapa putrimu ini merindukanmu. Aku yakin engkau akan secepatnya kembali. Duhai angin sampaikan kerinduan ini kepada kasih yang hilang di negeri jiran sana. Bunda, sungguh aku mencintaimu karena Allah. Semoga Allah mempertemukan kita dan mengumpulkan kembali kita di surga-Nya. Amien.
Allahummaghfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayana shoghira.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar